Pages

Subscribe:

Ads 468x60px

barangkali hanya sebuah kata saja yang sanggup menggambarkan
barangkali hanya sebuah tanda baca saja yang harus dipenuhi
barangkali hanya sebuah jeda saja yang dibutuhkan
sayangnya, yang tersaji tak hanya sebuah

Wednesday, April 5, 2017

Tepat Waktukah?

Jikan
Sigan
Time
Waktu
Apa itu waktu?
Apa segalanya berjalan secara tepat waktu?
Atau masih ada celah untukku untuk berdiam dan menunggu?
Apakah boleh memutuskan karena waktu yang setuju?
Aku tak tau...

Saturday, February 25, 2017

Di balik kelopak mata


“Aku ingin menemukan cinta seperti itu,” katamu, memecahkan sepi yang mendadak ada setelah ku bercerita sekian bab cerita pilu. Tentang pertemuan dan perpisahan, tentang senyum dan air mata, tentang paradoks dan kontradiksi yang selalu beriringan.
 
“Cinta sejati?” tanyaku, memancingmu. 

“Benar!” serumu, sambil tersenyum dan bersemangat. 

“Coba cari saja di dalam lemari, di atas meja, atau di bawah kolong kasurmu. Siapa tahu ketemu.” Asal saja ku jawab seperti itu. 

“Ah kau pikir aku mencari kecoak?”

Aku tertawa terbahak. Tak menyangka jawabanmu seperti itu. Lalu kau diam, mencipta hening panjang lagi. Aku datang ke tempatmu bukan untuk membuatmu berpikir, tapi sengaja untuk mencipta senyum di raut mukamu yang telah lama mendung. Meski tak kelabu. 

“Bukankah cinta itu selalu ada di balik kelopak matamu?” tanyaku, mencoba memutus hening.

Monday, February 20, 2017

Lintasan


Lintasanku adalah lintasan yang sepenuhnya milikkku. Begitupun lintasanmu adalah sepenuhnya milikmu. Lintasannya juga begitu, sepenuhnya miliknya. Awal langkahku adalah sendiri, maka langkah terakhir pun akan selalu sendiri. Tak peduli seberapa jauh, tak peduli seberapa dekat. Awal hingga akhir aku akan sendiri dalam lintasanku sendiri.

Monday, December 26, 2016

Apakah?


Apakah setiap menyerah berarti kalah?
 
Pertanyaan negatif pertamaku hari ini padamu. Kau diam saja, berpikir. Kau biasanya banyak bicara. Beberapa menit lalu kau banyak mengurai kata, sementara jawabku hanya senyum dan tawa. Kau tak perlu ku jelaskan aku sedang bagaimana kan. Aku yakin, kau sudah tau.

Apakah setiap jalan harus dituntaskan sampai tujuan?

Tanyaku lagi, menuju pernyataan negasi lainnya. Kau tau ini mau ke arah mana. Beberapa hari yang lalu aku menghubungimu tengah malam. Hanya untuk mengeluh. Tak apa katamu. Curahkan saja semuanya padaku, katamu. Lalu aku menjadi sapi. Mengeluh ke sana kemari.
Semakin hari aku semakin susah menangis, maka malam itu aku menangis. Melepaskan segala beban di kepalaku. Mencair kaca itu di mataku, mengalir melewati pipi. Aku tak berharap ada yang menghapus air mataku. Aku tak pernah menangis di depan orang lain selain kedua orang tuaku. Aku lebih sering menangis sendiri. Maka malam itu, aku membicarakan bebanku kepadamu. Membicarakan, tidak menangis di depanmu. Aku tak akan melakukan itu. Biarkan kau hanya tau aku suka tertawa, dan marah. Bukan menangis.

Apakah setiap janji harus kita tepati? Apakah setiap komitmen harus kita lunasi?

Tanyaku lagi. Aku menjadi setengah pengecut. Aku benci. Aku benci terlihat lemah, tapi aku juga benci terlihat kuat tapi keropos di dalam.
Kau tak menjawab satupun pertanyaanku. Seakan kau tau, aku tak perlu jawaban dari itu. Lalu angin menerbangkan daun-daun kering di depan kita. Sudah hampir tengah hari, dan kita masih betah berlama-lama memandang anak kecil yang berlarian. Ini wisata keluarga, katamu tadi pagi. Tentu, mana ada wisata yang bukan wisata keluarga? jawabku, seperti biasa, sekenaku, ketus, seperti biasa. Kau tak akan terganggu, kau sudah tau aku.

Wednesday, December 14, 2016

DESEMBER!

“Lip kamu nggak lagi stress kan lip?” mbak bubu tanya pada saya. Mungkin dia heran, kok saya malam-malam tiba-tiba chat dan tanya kesehatannya. Haha

Boleh jujur? Saya lagi suntuk. Heuh. Sebelumnya ngga ada sejarah migrain dalam hidup saya. Minggu lalu tiba-tiba tengah malam saya migrain. Malam jumat waktu itu. Selanjutnya selama tiga hari setelahnya saya pusing tidak sembuh-sembuh. Barulah setelah itu lumayan hilang sakit kepalanya. Malam ini saya sakit kepala lagi. Bahaha terlalu banyak yang dipikir, harus dikerjakan, harus diselesaikan dan tugas yang menunggu selanjutnya. Mudah-mudahan antioksidan yang saya konsumsi mencukupi untuk mencegah stress oksidatif yang saya yakin banyak terjadi di badan saya ini.

Ternyata tidak mudah menjalani kehidupan doktoral ini. Hahaha rasanya saya ingin menertawai diri saya sendiri. Kalau boleh jujur saya suntuk dan stres berat. Saya malas untuk bercerita pada papa dan mama. Malas. Saya malas mengeluh terus. Lha piye? Wongan gak ada solusi lain selain dikerjakan. Memang luar biasa kok beasiswa ini. Tidak sampai tiga bulan disuruh menghabiskan uang sekian puluh juta untuk penelitian. Ya iyasih bisa. Kalau ngga ada kuliah, kalau udah ngga ada tugas, kalau dan kalau alasan lainnya. Alasan tidak ada yang salah kan? Beuuhhh.. kemudian desember ini jadi bulan yang benar-benar gila. Seminggu setelah batas akhir pengumpulan laporan keuangan (bahkan tidak sampai seminggu – hanya lima hari saja), proposal penelitian tahap kedua harus dikumpulkan. Hahahahahahahahaha saya sampai saat ini belum menyentuh apa itu proposal. Blasssss. Kenapa? Karena saya masih harus mengerjakan tugas yang lain yaitu telaah disertasi yang sejujurnya saya nggak ngerti ini isi disertasinya teh naon. Kumahaaa ieeee.

Maapkan. Lama tidak ngblog, sekalinya nulis malah nyampah T-T

Seperti saya bilang tadi, saya sedang malas cerita ke mama papa. Saya sedang malas cerita pada siapapun. Saya capek, serius. Tapi serius juga, saya makin penasaran sama bawang merah. Pengen cepet penelitian, tapi apa daya. Ah bodo ah....

Bye ~~ kamar saya bau bawang. Fiuuuh. 

Friday, November 11, 2016

Dudududududu ~

Banyak yang ingin saya tuliskan di kolom ini malam ini. Tadi sudah beberapa paragraf saya tulis, sudah beberapa dialog saya karang, akhirnya saya hapus lagi. Saya malas menulis picisan hari ini. Meski yang saya rasakan sore tadi juga picisan. 

kbbi : -- picisan buku atau roman yang tidak bernilai ilmiah atau tidak bernilai sastra

Yep, setalah mendengar kisah yang baru saya dengar beberapa tahun dari yang seharusnya itu, saya shock berat. Haha. Picisan ah, malas dibahas. 

Hari ini berjalan dengan kacau. Mulai dari kuliah yang sama sekali saya nggak ngerti kecuali bagian hitung-menghitungnya, dilanjutkan dengan tidak menemukan supplier bahan kimia untuk beli Toluena (yang lebih murah), kemudian mencari ketenangan di LSI tapi akhirnya mendengar kenyataan yang tidak seharusnya dibuat sedih, cerita ke mama malah mama menjudge dan mendogma saya ini itu yang justru membuat saya meledak nangis hadeh, dan akhirnya sampe kos dapat pesan-pesan di whatsapp dengan menghasilkan rasa bersalah yang mendalam. Ahhhhhhh rasanyaaaa mau konsentrasi ke bawang merah susah amat. Akhirnya saya nonton anime malah hilang episode 7 sama 8-nya, kacauuu. 

Sudah niat dari kemarin malam, akan menulis ini itu di blog, tapi menguap segala kata yang sudah saya rancang, dan segala dialog yang sudah saya bayangkan. Syudududududu, saya ingin main hujan-hujanan, naik bianglala, atau ke pantai teriak-teriak kaya orang ndak sehat. Hahahaha

Kalau boleh saya proporsikan, sebagian besar, hampir 80% pikiran saya hanya tertuju pada bawang merah. Topik penelitian, disertasi atau apalah itu. Yang lain-lain cuma jadi accessories aja, seriusan. Kecuali galau saya mau ikutan fanmeet Park Bo Gum tapi tiketnya kemahalan, itu menyita sekitar 10% pikiran. Nah sisanya 10% lagi memikirkan tugas-tugas yang semakin menumpuk, jadwal olahraga yang cuma jadi wacana, dan galau malam minggu yang selalu sendirian. eaaaaak hahaha bodo amat ini mah, masih ada laptop ini.

Ah ngga tau aaahhhhh.. 

Selamat malam, kekasih.

Friday, September 16, 2016

MENDINGAN

Satu topik yang sering dibicarakan di kalangan mahasiswa (yang buka buku terus setelah tutup buku, akakakak) seperti saya adalah topik satu ini : MENDINGAN (MENIKAH DENGAN PASANGAN/TEMAN). 

Beberapa teman saya menikah tahun ini, tiga teman baru di jenjang pascasarjana menikah bulan Januari lalu, dan dua lainnya menikah di bulan Juli kemarin. Tidak heran sih, mereka memang beberapa tahun lebih tua dibanding saya. Tapi ada juga teman seangkatan saya di Sekolah Menengah Atas yang juga sudah menikah tahun ini. Iya seumuran. 

No, jangan beranggapan saya iri. Nope. I don't. Not yet. Ekekek

Saya cuma kagum, hebat. Teman-teman saya berani membuat sebuah komitmen luar biasa. Menikah menurut saya adalah perjanjian seumur hidup, pengukuhan komitmen, persaksian yang juga disaksikan penduduk langit. Uhh beraattt.

Sunday, September 4, 2016

(B)utuh



“Apalah arti dari kata-kata yang kau rangkai itu?” protes pertamamu hari ini. “Hanya untuk sedetik saja kau resapi lalu kau uapkan hilang dengan suhumu yang sudah keterlaluan itu?” sarkasmemu yang keterlaluan.
“Apalah arti dari semua yang kau karang itu?” protesmu yang kedua.
Aku mendengus kesal. Bukan padamu, lebih pada diriku sendiri. 
Tapi rupanya kau menyangka aku kesal padamu. Merah padam mukamu itu. “Aku begini karna aku peduli padamu, sudah bermingu-minggu dan perkembanganmu nihil. Kau tau kau membuang begitu banyak waktu yang berharga!”
“Aku tau!” bentakku. Aku ingin kau diam. Aku sedang lelah beradu kata. 
“Kau tau, tapi terus begitu. Kau hanya menghabiskan detik-detikmu demi kesenanganmu. Kau abaikan semua tugas dan hal yang harus kau kerjakan tuntas.”
Baiklah, aku tau kau kecewa padaku. Sama, aku juga kecewa pada diriku sendiri. 

Wednesday, August 10, 2016

Embun dan Matahari

Aku tau kau begitu menyukai embun
Sejak itulah aku sadar kita tak bisa bersatu
Karena ku mencintai matahari
Bukankah akhirnya aku membunuhmu?
Meski aku juga tau, apa yang kita sukai tak seharusnya saling membunuh.

Kita pernah duduk bersama di suatu malam tanpa bulan. Berbicara soal embun dan matahari, siapakah yang lebih mencintai. Waktu itu malam, tapi kita bicara soal pagi, karena tak ada matahari di malam hari. Kau selalu membantah, embun yang lebih mencintai. Aku tau kau begitu menyukai embun, meski itu juga yang membuat paru-parumu basah. Terlalu basah untuk wanita periang sepertimu. 

Tuesday, August 9, 2016

Oh my leg

Pukul 12.49 am ketika saya mulai menulis tulisan ini. Saya tidak bisa tidur, tiba-tiba kaki kiri saya linu bukan main, sebelumnya kepala saya pusing bukan main. Saya tau ini efek jalan-jalan tadi, lebih tepatnya efek saya kurang jalan hingga jalan jauh sedikit saja jadi begini atau mungkin memang malam ini dingin makanya penyakit lama saya datang? Atau ada pengaruh period juga? Linu-linu kaki yang ngga jelas. 

Akhirnya saya menyerah, saya ganti pakai celana panjang (siapa tau memang karena dingin dan selimut tidak berpengaruh apapun). Tetap saja cenat-cenut. Saya mencoba mengubah persepsi sakit dengan cara berdamai, menerima rasa sakitnya, menerka-nerka darimana si sakit berasal. Benar dari tulang-kah atau dari si otot-kah. Saya rasakan sakit itu ternyata benar sakit tidak tipu-tipu. Ah dia justru menjalar ke kepala! Hahaha lucu juga, sakit di kaki jadi berbeda rasanya, sama seperti rasa sakit yang lama dulu. Ketika dingin menghampiri dan badan tidak fit. Ini akibat dari perjalanan belasan kilometer sewaktu di sekolah dasar dulu, melewati kebun berkabut dan kaki jadi korbannya. Sensitif dingin.

Well, kadang kita perlu untuk memutar sudut pandang untuk mendapatkan pemikiran yang berbeda. Atau sekalian terjun dalam suatu bidang, agar kita mampu berdamai dengan keadaan. 

Kinda strange, I know sth happen if my leg start bring up this pain. But what happened? Idk 


Sunday, 7th August 12:58 AM

Monday, August 8, 2016

8 Agustus 2015

8 Agustus 2015.
8 Agustus 2016.

Sudah setahun saya wisuda sarjana. Jadi ingat rentetan kejadian setelah wisuda. Saya menulis paragraf-paragraf di bawah ini setahun lalu, meski bukan di bulan Agustus. Membaca ini saya jadi ingat perjuangan sampai ke sini (ke Bogor), jadi menyesal lebih sering nonton drama dan baca novel ketimbang baca jurnal T-T

Ini, saya post sajalah tulisan saya itu. Judulnya di file saya adalah escaping Malang.

----

Sunday, June 19, 2016

Lompatan beberapa topik dangkal

"lagi ngapain" suara bercampur batuk di seberang.
"baca novel, hahaha"
"tugasnya sudah selesai?"
"belumlah, orang aku daritadi baca novel. santai laaah"
"ya coba selesaikan dulu tugasnya"
"no, baca ini suatu cara untuk mengumpulkan kebahagiaan."
"ya sudah" ~ papa

Yep. entah papa entah mama, akan kalah untuk satu hal ini. Aku bukan kutu buku, tidak selalu mambaca buku. Tapi sekali menemukan alur dalam suatu buku, bye bye handphone, bye bye makan, ku akan hilang di atas bantal selama berjam-jam! 

percakapan lainnya. 

"memang selama di Bogor sudah berapa baju yang dibeli sampai sekarang?"
 "emmm... dua? tiga?"
"segitu aja? penampilan itu penting, Vi"
"hahahahaha, iyo iyo"
"terus apa yang banyak bertambah"
"buku!"
"berapa?"
"emmm......" delapan, sembilan, sepuluh? 

 masih papa.


"sebenarnya aku sudah ngga seperti dulu bacanya, tapi aku masih ingin memelihara kesukaanku terhadap membaca (meski sering lupa setelahnya)"
"hmm"
"daripada aku menghabiskan waktuku untuk menonton drama (korea)" 
ya, drama korea nanti saja, baca novel dulu sajalah. 

Tuesday, June 7, 2016

Who am I. 
The question I always ask when I need to reduce my anger. To calm my ego.
What is your initial destination. 
The question I always ask when I lost my way.


I always have the answer, but sometimes you have to ask me. 


As I already said before. I lose.