Pages

Subscribe:

Ads 468x60px

barangkali hanya sebuah kata saja yang sanggup menggambarkan
barangkali hanya sebuah tanda baca saja yang harus dipenuhi
barangkali hanya sebuah jeda saja yang dibutuhkan
sayangnya, yang tersaji tak hanya sebuah

Friday, November 10, 2017

Keluarlah ! Pindahlah !

Lima belas menit sudah hujan mengguyur kota ini. Tidak deras tapi cukup untuk membasahi seluruh pakaian. Tiga menit sudah sepasang lelaki dan wanita itu mengantri. Ya, mengantri hanya untuk melewati sebuah jalan. Kota macet, biar hujan tetap macet. Sepanjang jalan yang sempit dan kendaraan yang padat. Kombinasi yang pas untuk meluapkan emosi, tapi sepasang lelaki dan wanita itu tak pernah emosi, mereka hanya diam dalam jas hujan masing-masing. Menamati pemandangan yang sering mereka lihat dan tak juga berubah. 

Tuesday, September 5, 2017

Baiklah, aku sisipkan sedikit jeda dari beribu spasi yang sengaja aku ketikkan. Spasi untuk kegiatan yang membuatku lupa akan masalah dan perihal kehidupan lainnya. Jatuh cinta, terlalu sederhana ternyata. Itu tentang melupa dan mengingat. Itu tentang tawa dan air mata. Aku selalu selalu bilang itu sepaket. Jatuh cinta selalu berpasangan dengan patah hati. Hanya, jatuh cinta ada diawal cerita sedangkan patah hati entah ada diperiode kehidupan yang kapan. Laksana pertemuan dan perpisahan, begitulah jatuh cinta dan patah hati ditakdirkan, selalu sepaket. Tak percaya? Aku tak memaksamu untuk percaya. Karena katanya kepercayaan itu hak sepenuhnya dari seorang insan. 

Sudah sekian menit aku memutuskan untuk menulis di kolom yang jarang ku buka. Hanya sesekali saja. Dan sekali itu pun jarang ku laksanakan dalam sebulan. Aku mencinta kata. Aku masih mengagumi rima. Aku pun masih sering mengolah rasa. Tapi, lagi-lagi jatuh cinta yang ini membuatku lupa. Bahwa aku punya dunia lain, yang akan selalu ada menampung tumpahan aksaraku. Ah ~ 

Mungkin sudah waktunya aku menutup lagi kolom ini. Untuk menghitung keperluan bahan kimia yang dibutuhkan. Ternyata aku juga rindu, laboratorium dan kesibukan yang membuatku lupa daratan. 

SELAMAT MELANJUTKAN HIDUP

Percakapan langit

Ah rindu percakapan langit. Kaki yang tetap menapak di bumi, pikiran yang dipenuhi kabut, dan detik yang terus berputar. Berkeliling antara 1 dan 12. Terus menerus hingga kokok ayam menyadarkan. Bahwa matahari sudah selesai istirahat. Dan hey! mata belum terpejam barang semenit. Alangkah asyik, percakapan langit.

Tuesday, July 11, 2017

Cerita Pendek yang Sanggup Memperpanjang Rasa


"suatu hari, di pagi yang mendung seorang pangeran sedang skrol layar henpon ke atas ke bawah tak jelas. Tiba-tiba dia melihat sesuatu yang tak lazim. Ada foto pangeran bersama putri kura-kura selatan berfoto bersama ketika mengikuti seminar RSM.
"setelah di-zoom hingga sebesar layar bioskop. Ternyata pangeran sadar bahwa dia bukan putri kura2, ternyata dia siluman ular putih hahahhaa
"setelah diamati dari berbagai bidang pandang, ternyata si wanita menarik juga. Ada kesan fluorescence di wajah si siluman
"pangeran pun mencoba untuk mendekati si siluman, tapi si siluman sepertinya adalah orang yang cuek, sehingga kemudian si pangeran bertuah ke goa bertemu nenek nenek kaos oblong. Wkwkkwkww
"si nenek mengamati bahwa siluman ini sebenernya mempunyai hati yang baik, tapi dia tidak mau diganggu selama masa perjalanannya untuk menulis kitab suci bagi umat bawang merah.
"namun, itu tak membuat pangeran mundur. Karena pangeran ini memang agak kurang ajar dan banyak tingkah, lantas si pangeran malah berusaha mendekati si siluman. dannnnnnnnnn tet tet tet si siluman berhasil ditaklukan dengan rayuan2 maut menembus langit ketujuh
"karena mungkin ingin menguji kesetiaan pangeran, siluman ular mencoba memberikan sedikit psiko test dengan memberikannya racun mujarab yang telah diracik dengan waspada dan penuh sumber pustaka.
"setelah pangeran ter-intervensi dengan perlakuan tsb, pangeran langsung mengalami perubahan kesehatan signifikan (P<0.05).
"Meskipun demikian, pangeran tetap menyayangi siluman yang kini telah mengepakkan sayapnya sampai ujung kulon wkwkkwwk
"sekian terima kasih,,,

(22 April 2017, 6 AM)
-tanpa editan apapun kecuali penulisan saja-


Cerita super pendek dari seseorang yang gila, 
luar biasa gila hingga membuat saya juga gila.
Saya menemukan tawa saya kembali ketika bersamanya.
Oke, saya kalah.
Thank you, my man!

Thursday, June 1, 2017

Pulang

Apakah setiap perjalanan pulang adalah perjalanan kembali?
Apakah pulang berarti kembali meniti sebuah jalan yang pernah dilewati?
Apakah pulang bisa juga kembali mencari jalan? 
Apakah pulang bisa menjadi tujuan, sementara akhir adalah rumah?
Sebentar, apakah pulang selalu rumah? 

Saturday, May 20, 2017

Lagi...


Takut-takut kau nyalakan sebatang lilin yang kau punya
Dalam sudut yang kau anggap tak berbahaya
Kau lindungi dari angin dan hembusan napasmu sendiri
Seakan kau lupa
Lilin hanya punya segaris sumbu
Yang panjangnya tak seberapa, dibandingkan ketakutanmu yang sempurna
                Kau berjalan maju, tapi pikiranmu mundur, kembali pada beberapa jam lalu. Saat amarah menguasaimu, tapi kau padamkan seketika saat bertemu dengan amarahnya. Pertanyaan itu kembali bermunculan dalam kepalamu. Pernyataan-pernyataan itu kembali hadir setelah tidur pulasmu. Aku tau, kau tak sekuat itu. Kau rapuh, kau bisa marah, tapi kau benci mengeluarkan air mata di depan mata lainnya. Maka, ketika merah sembab kedua matamu, aku bisa paham. Kau menangis semalaman, hanya karena menjaga perasaan orang lain, sementara hatimu sendiri berdarah.
Apa kau sanggup terus bertahan
Sementara serangan terus mematikan


Thursday, April 27, 2017

Aku takut, Bu...



Bu, boleh aku tak jatuh cinta lagi? Ibu, bolehkah aku terus menyangkal bahwa aku jatuh cinta lagi? Ibu, bolehkah aku terus menolak perasaan-perasaan itu? Bolehkah, Bu? Mengapa ketika aku bebaskan perasaanku, aku jadi semakin takut Bu? Aku ketakutan oleh perasaanku sendiri. Rasa senang itu berdampingan rasa takut. Bahagia itu juga bergandengan dengan rasa takut. Bu, bolehkah aku menyangkalnya lagi, Bu?

Wednesday, April 5, 2017

Tepat Waktukah?

Jikan
Sigan
Time
Waktu
Apa itu waktu?
Apa segalanya berjalan secara tepat waktu?
Atau masih ada celah untukku untuk berdiam dan menunggu?
Apakah boleh memutuskan karena waktu yang setuju?
Aku tak tau...

Saturday, February 25, 2017

Di balik kelopak mata


“Aku ingin menemukan cinta seperti itu,” katamu, memecahkan sepi yang mendadak ada setelah ku bercerita sekian bab cerita pilu. Tentang pertemuan dan perpisahan, tentang senyum dan air mata, tentang paradoks dan kontradiksi yang selalu beriringan.
 
“Cinta sejati?” tanyaku, memancingmu. 

“Benar!” serumu, sambil tersenyum dan bersemangat. 

“Coba cari saja di dalam lemari, di atas meja, atau di bawah kolong kasurmu. Siapa tahu ketemu.” Asal saja ku jawab seperti itu. 

“Ah kau pikir aku mencari kecoak?”

Aku tertawa terbahak. Tak menyangka jawabanmu seperti itu. Lalu kau diam, mencipta hening panjang lagi. Aku datang ke tempatmu bukan untuk membuatmu berpikir, tapi sengaja untuk mencipta senyum di raut mukamu yang telah lama mendung. Meski tak kelabu. 

“Bukankah cinta itu selalu ada di balik kelopak matamu?” tanyaku, mencoba memutus hening.

Monday, February 20, 2017

Lintasan


Lintasanku adalah lintasan yang sepenuhnya milikkku. Begitupun lintasanmu adalah sepenuhnya milikmu. Lintasannya juga begitu, sepenuhnya miliknya. Awal langkahku adalah sendiri, maka langkah terakhir pun akan selalu sendiri. Tak peduli seberapa jauh, tak peduli seberapa dekat. Awal hingga akhir aku akan sendiri dalam lintasanku sendiri.

Monday, December 26, 2016

Apakah?


Apakah setiap menyerah berarti kalah?
 
Pertanyaan negatif pertamaku hari ini padamu. Kau diam saja, berpikir. Kau biasanya banyak bicara. Beberapa menit lalu kau banyak mengurai kata, sementara jawabku hanya senyum dan tawa. Kau tak perlu ku jelaskan aku sedang bagaimana kan. Aku yakin, kau sudah tau.

Apakah setiap jalan harus dituntaskan sampai tujuan?

Tanyaku lagi, menuju pernyataan negasi lainnya. Kau tau ini mau ke arah mana. Beberapa hari yang lalu aku menghubungimu tengah malam. Hanya untuk mengeluh. Tak apa katamu. Curahkan saja semuanya padaku, katamu. Lalu aku menjadi sapi. Mengeluh ke sana kemari.
Semakin hari aku semakin susah menangis, maka malam itu aku menangis. Melepaskan segala beban di kepalaku. Mencair kaca itu di mataku, mengalir melewati pipi. Aku tak berharap ada yang menghapus air mataku. Aku tak pernah menangis di depan orang lain selain kedua orang tuaku. Aku lebih sering menangis sendiri. Maka malam itu, aku membicarakan bebanku kepadamu. Membicarakan, tidak menangis di depanmu. Aku tak akan melakukan itu. Biarkan kau hanya tau aku suka tertawa, dan marah. Bukan menangis.

Apakah setiap janji harus kita tepati? Apakah setiap komitmen harus kita lunasi?

Tanyaku lagi. Aku menjadi setengah pengecut. Aku benci. Aku benci terlihat lemah, tapi aku juga benci terlihat kuat tapi keropos di dalam.
Kau tak menjawab satupun pertanyaanku. Seakan kau tau, aku tak perlu jawaban dari itu. Lalu angin menerbangkan daun-daun kering di depan kita. Sudah hampir tengah hari, dan kita masih betah berlama-lama memandang anak kecil yang berlarian. Ini wisata keluarga, katamu tadi pagi. Tentu, mana ada wisata yang bukan wisata keluarga? jawabku, seperti biasa, sekenaku, ketus, seperti biasa. Kau tak akan terganggu, kau sudah tau aku.

Wednesday, December 14, 2016

DESEMBER!

“Lip kamu nggak lagi stress kan lip?” mbak bubu tanya pada saya. Mungkin dia heran, kok saya malam-malam tiba-tiba chat dan tanya kesehatannya. Haha

Boleh jujur? Saya lagi suntuk. Heuh. Sebelumnya ngga ada sejarah migrain dalam hidup saya. Minggu lalu tiba-tiba tengah malam saya migrain. Malam jumat waktu itu. Selanjutnya selama tiga hari setelahnya saya pusing tidak sembuh-sembuh. Barulah setelah itu lumayan hilang sakit kepalanya. Malam ini saya sakit kepala lagi. Bahaha terlalu banyak yang dipikir, harus dikerjakan, harus diselesaikan dan tugas yang menunggu selanjutnya. Mudah-mudahan antioksidan yang saya konsumsi mencukupi untuk mencegah stress oksidatif yang saya yakin banyak terjadi di badan saya ini.

Ternyata tidak mudah menjalani kehidupan doktoral ini. Hahaha rasanya saya ingin menertawai diri saya sendiri. Kalau boleh jujur saya suntuk dan stres berat. Saya malas untuk bercerita pada papa dan mama. Malas. Saya malas mengeluh terus. Lha piye? Wongan gak ada solusi lain selain dikerjakan. Memang luar biasa kok beasiswa ini. Tidak sampai tiga bulan disuruh menghabiskan uang sekian puluh juta untuk penelitian. Ya iyasih bisa. Kalau ngga ada kuliah, kalau udah ngga ada tugas, kalau dan kalau alasan lainnya. Alasan tidak ada yang salah kan? Beuuhhh.. kemudian desember ini jadi bulan yang benar-benar gila. Seminggu setelah batas akhir pengumpulan laporan keuangan (bahkan tidak sampai seminggu – hanya lima hari saja), proposal penelitian tahap kedua harus dikumpulkan. Hahahahahahahahaha saya sampai saat ini belum menyentuh apa itu proposal. Blasssss. Kenapa? Karena saya masih harus mengerjakan tugas yang lain yaitu telaah disertasi yang sejujurnya saya nggak ngerti ini isi disertasinya teh naon. Kumahaaa ieeee.

Maapkan. Lama tidak ngblog, sekalinya nulis malah nyampah T-T

Seperti saya bilang tadi, saya sedang malas cerita ke mama papa. Saya sedang malas cerita pada siapapun. Saya capek, serius. Tapi serius juga, saya makin penasaran sama bawang merah. Pengen cepet penelitian, tapi apa daya. Ah bodo ah....

Bye ~~ kamar saya bau bawang. Fiuuuh. 

Friday, November 11, 2016

Dudududududu ~

Banyak yang ingin saya tuliskan di kolom ini malam ini. Tadi sudah beberapa paragraf saya tulis, sudah beberapa dialog saya karang, akhirnya saya hapus lagi. Saya malas menulis picisan hari ini. Meski yang saya rasakan sore tadi juga picisan. 

kbbi : -- picisan buku atau roman yang tidak bernilai ilmiah atau tidak bernilai sastra

Yep, setalah mendengar kisah yang baru saya dengar beberapa tahun dari yang seharusnya itu, saya shock berat. Haha. Picisan ah, malas dibahas. 

Hari ini berjalan dengan kacau. Mulai dari kuliah yang sama sekali saya nggak ngerti kecuali bagian hitung-menghitungnya, dilanjutkan dengan tidak menemukan supplier bahan kimia untuk beli Toluena (yang lebih murah), kemudian mencari ketenangan di LSI tapi akhirnya mendengar kenyataan yang tidak seharusnya dibuat sedih, cerita ke mama malah mama menjudge dan mendogma saya ini itu yang justru membuat saya meledak nangis hadeh, dan akhirnya sampe kos dapat pesan-pesan di whatsapp dengan menghasilkan rasa bersalah yang mendalam. Ahhhhhhh rasanyaaaa mau konsentrasi ke bawang merah susah amat. Akhirnya saya nonton anime malah hilang episode 7 sama 8-nya, kacauuu. 

Sudah niat dari kemarin malam, akan menulis ini itu di blog, tapi menguap segala kata yang sudah saya rancang, dan segala dialog yang sudah saya bayangkan. Syudududududu, saya ingin main hujan-hujanan, naik bianglala, atau ke pantai teriak-teriak kaya orang ndak sehat. Hahahaha

Kalau boleh saya proporsikan, sebagian besar, hampir 80% pikiran saya hanya tertuju pada bawang merah. Topik penelitian, disertasi atau apalah itu. Yang lain-lain cuma jadi accessories aja, seriusan. Kecuali galau saya mau ikutan fanmeet Park Bo Gum tapi tiketnya kemahalan, itu menyita sekitar 10% pikiran. Nah sisanya 10% lagi memikirkan tugas-tugas yang semakin menumpuk, jadwal olahraga yang cuma jadi wacana, dan galau malam minggu yang selalu sendirian. eaaaaak hahaha bodo amat ini mah, masih ada laptop ini.

Ah ngga tau aaahhhhh.. 

Selamat malam, kekasih.