Pages

Subscribe:

Ads 468x60px

Showing posts with label Flash fiction. Show all posts
Showing posts with label Flash fiction. Show all posts

Friday, February 7, 2020

Di pinggiran kasur, aku menatapmu. Tidurmu sudah pulas, nafasmu sangat tenang, tidak tersisa sama sekali kemarahan yang begitu buas menguasaimu. Kuusap pipimu. Air mataku yang tumpah. Ah, betapa aku mencintaimu. Kau menggeliat, kesadaranmu mulai terkumpul, lalu menatapku dengan sayu. Aku tersenyum, setelah berjam-jam menangis di hadapanmu. Rasanya ingin kuucapkan beribu kali, aku mencintaimu. Rasanya ingin kupeluk dan tak pernah kulepaskan, hingga hewan buas dalam dadamu itu menghilang dari jiwamu. Kucium pipimu. Kau tau, kau adalah satu-satunya orang yang mampu membuatku menundukkan hewan liar dalam diriku sendiri. Kau tau, kau satu-satunya orang yang aku rela melepaskan apa saja untukmu. Aku mencintaimu. I love you, unconditionally.

Sunday, January 28, 2018

Bawangku bukan Bawangku

(koleksi pribadi dari bawang penelitian)
Aku dipaksa berkenalan. Maka kuberanikan diriku. "Hai," sapaku, kaku. "Hai, aku bawang merah," katamu, riang. "Onion?" tanyaku sok tahu. "Bukan, salah! Aku shallot." Lalu kita mulai saling mengenal. Kau labil, aku juga. Kau susah ku cari, aku mudah menghilang. Tapi aku tak mau lari, maka kau terus ku kejar, meski lambat.

Sudah sekian lama, maka ku beranikan diri bilang.
"Aku mencintaimu," kataku, malu. Cinta tapi begini. Cinta tapi begitu. Sebenarnya, supaya ku kuat terus bertahan. Lama tak terdengar, kau jawab pelan, "aku juga mencintaimu."
Aku terdiam, benarkah itu? Kau tau artinya raut wajahku yang ragu, maka kau katakan "aku mencintaimu, tapi tetap membuatmu menangis? Maaf. Tapi sesungguhnya itu bukan sepenuhnya salahku. Kau juga harus tau, bagaimana harus menghadapiku. Bukankah sudah lama kita saling mengenal? Harusnya kau lebih paham."
Aku terdiam. Serasa ditampar. Ya, aku yang seharusnya lebih paham.

Tetap saja, boleh ku katakan lagi? "Aku mencintaimu. Mari membuat kisah cinta yang lebih cantik lagi. Ah maafkan aku." Kataku. Lalu kau tersenyum. Keluar tunasmu, matilah aku. Lagi-lagi, aku yang salah. Ah, aku bisa apa? Oh, lagi-lagi.

Wednesday, December 20, 2017

Petang? Senja?

“Katamu aku petang.” Omelmu hari ini. Sudah lama aku tak mendengar omelanmu.
“Ya, kau memang petang. Kau mau aku sebut apa lagi?” Kataku, sok cuek padahal ingin tertawa.
“Kenapa tak kau sebut senja? Bukankah sama saja?”
“Nope. Tidak sama. Senja dan Petang jauh berbeda. Hanya beberapa detik, tapi jauh berbeda.”
“Apa maksudmu berbeda? Mereka sama saja.”

Friday, November 10, 2017

Keluarlah ! Pindahlah !

Lima belas menit sudah hujan mengguyur kota ini. Tidak deras tapi cukup untuk membasahi seluruh pakaian. Tiga menit sudah sepasang lelaki dan wanita itu mengantri. Ya, mengantri hanya untuk melewati sebuah jalan. Kota macet, biar hujan tetap macet. Sepanjang jalan yang sempit dan kendaraan yang padat. Kombinasi yang pas untuk meluapkan emosi, tapi sepasang lelaki dan wanita itu tak pernah emosi, mereka hanya diam dalam jas hujan masing-masing. Menamati pemandangan yang sering mereka lihat dan tak juga berubah. 

Thursday, June 1, 2017

Pulang

Apakah setiap perjalanan pulang adalah perjalanan kembali?
Apakah pulang berarti kembali meniti sebuah jalan yang pernah dilewati?
Apakah pulang bisa juga kembali mencari jalan? 
Apakah pulang bisa menjadi tujuan, sementara akhir adalah rumah?
Sebentar, apakah pulang selalu rumah? 

Saturday, February 25, 2017

Di balik kelopak mata


“Aku ingin menemukan cinta seperti itu,” katamu, memecahkan sepi yang mendadak ada setelah ku bercerita sekian bab cerita pilu. Tentang pertemuan dan perpisahan, tentang senyum dan air mata, tentang paradoks dan kontradiksi yang selalu beriringan.
 
“Cinta sejati?” tanyaku, memancingmu. 

“Benar!” serumu, sambil tersenyum dan bersemangat. 

“Coba cari saja di dalam lemari, di atas meja, atau di bawah kolong kasurmu. Siapa tahu ketemu.” Asal saja ku jawab seperti itu. 

“Ah kau pikir aku mencari kecoak?”

Aku tertawa terbahak. Tak menyangka jawabanmu seperti itu. Lalu kau diam, mencipta hening panjang lagi. Aku datang ke tempatmu bukan untuk membuatmu berpikir, tapi sengaja untuk mencipta senyum di raut mukamu yang telah lama mendung. Meski tak kelabu. 

“Bukankah cinta itu selalu ada di balik kelopak matamu?” tanyaku, mencoba memutus hening.

Tuesday, May 24, 2016

Pagi dan Cita Rasanya [#FlashFictionYummyLit]


Hari beranjak mendekati petang, sementara "warung cantik" ini semakin ramai dikerubungi muda-mudi untuk menghabiskan apa yang orang sebut dengan malam minggu. 

Begitu juga aku. 

Aku sudah memesan satu hidangan yang paling kau suka. “Aku tak perlu hidangan penutup yang lain,” katamu kala itu, coklat powder belepotan di sekitar bibirmu. “Memang rasanya ada sedikit pahit, kau tau kenapa?” tanyamu.

Aku seorang yang tak mudah bicara pada orang baru, berbeda denganmu yang langsung tak kenal malu. Tapi berbeda lagi dari biasanya, aku nyaman berbicara dengan orang asing sepertimu. Aku menggeleng menanggapi kicauanmu. 

“Pahit ini karena ada kopi sebagai ingrediennya, kafein yang menciptakan cita rasa pahitnya,” lalu kau kembali mengunyah satu sendok tiramisumu. Ya, itulah hidangan favoritmu, tiramisu

Aku melihatmu seakan kau tak akan pernah bisa lagi makan, begitu menikmati. Entah mengapa aku tersenyum tiap kali melihat ekspresimu setelah merasakan pahit yang kau bilang. 

“Tapi, tidak hanya pahit,” katamu sekali lagi. “Juga ada cita rasa manis, karena ada gula sebagai ingredien lainnya. Dan juga kau tak perlu mencari hidangan lainnya, ini sudah berenergi tinggi.” 

“Kenapa?” tanyaku. Aku tak tau menau soal kue dan ingrediennya. 

Kau menyelesaikan sepiring tiramisu-mu, “telur menyumbangkan kalorinya untuk si tiramisu,” katamu seraya mengulurkan tanganmu, “senang berkenalan denganmu. Pagi.” Aku mengernyit. “Pagi?” tanyaku. 

“Iya, namaku Pagi. Selamat malam, Wira.” Kemudian kau berlalu. 

Saturday, April 9, 2016

Taste bud

"Setiap papila tidak hanya memiliki satu reseptor rasa, tapi bisa empat sampai lima reseptor."

Baiklah, aku gambar penampakan si papila  secara umum. Papila berbentuk circumuallate. Bagian atas adalah papila, di dalamnya ada beberapa reseptor bernama taste bud yang 'batang'nya adalah syaraf. Jadi benar, teori wilayah rasa itu sudah jatuh. Setiap bagian di lidah kita bisa merasakan semua rasa dasar. Walau memang ada daerah-daerah tertentu yang lebih sensitif terhadap rasa tertentu.
Aku mengontrol handphone sesekali, checking apakah fungsi recorder masih berjalan. Aku tak ingin tertinggal satu kata pun. 

Sunday, February 7, 2016

Cita rasa dasar



Pukul dua belas tepat, ditandai dengan jingle radio yang menggaung saat pergantian jam. Siang yang panas, ditemani oleh kipas angin yang sudah berpuluh menit berputar menghembus udara yang diam, pengap. Musim penghujan sudah datang, tapi entah mengapa malah udara panas yang betah singgah. 
Sang Lelaki menyodorkan segelas jus jambu dingin pada Wanitanya. Wanita yang sesaat lalu mematikan televisi di depannya itu lantas tersenyum. 
“Jalan-jalan, yuk?” tanya sang lelaki sambil meletakkan kaca matanya di atas meja kayu di depannya.
“Hmm, enggak yuk?” jawab sang wanita, santai. Sang Lelaki tertawa
“Kenapa?”

Friday, June 26, 2015

Angin dan Asap



“Namaku angin,” kataku.
“Namaku asap,”katamu. Kita berjabat tangan.
“Darimana asalmu?” tanyamu kaku, batuk menyusul pertanyaanmu itu.
“Aku berasal dari udara yang bergerak, sementara dirimu?”
“Aku? aku berasal dari pembakaran tak sempurna dari suatu bahan bakar yang terbang bersama udara yang tak berwarna,” ada nada kesal dan kecewa dari jawabanmu. Mudah sekali terbaca perasaanmu itu, atau mungkin kau sengaja menunjukkannya?
Aku manggut-manggut, mengerti dengan penjelasanmu. Bukankah sebenarnya kita sama saja? Sama-sama terbang ke angkasa, hanya saja kau mudah ditandai oleh indra pengelihatan dengan wujudmu yang kelabu, sementara aku sulit sekali untuk dilihat – meski aku ingin sekali – hanya bisa dirasa saja. Ah iya! Aku bisa dilihat dari apa-apa yang kusentuh, mereka selalu mengatakan daun-daun yang jatuh disebabkan olehku, layang-layang yang terbang juga karena ada aku, kata mereka, manusia. Dan mereka selalu menantiku jika sedang kepanasan, ingin menerbangkan perahu layar, mengeringkan baju dan tentu untuk menerbangkan layang-layang.

Tuesday, April 21, 2015

SESAL APA LAGI?

"Ada berapa hal yang kau selali di masa lalu?" tanyamu. 
"Banyak!" jawabku tanpa pikir panjang, terlalu banyak yang aku sesali, hingga semuanya mengabur membuatku malu sendiri.
"Kenapa banyak? Hal-hal burukkah? Hal-hal baikkah?" tanyamu lagi, selalu ingin tau.
"Beberapa hal baik, sisanya hal-hal yang di mataku saat ini memalukan. Mengapa aku lakukan, mengapa aku begitu tak tau malu, mengapa aku dahulu tak berpikir panjang," kataku memulai ceritaku.
Kau diam saja kali ini. Memandangku, tersenyum. Seakan kalimat itu terlepas dari lidahmu, "tak apa, itu hanya masa lalu." Tapi yang ku pandang, kau hanya membeku, menggigil dan kaku, meski senyum kau sunggingkan di bibirmu.
Ada banyak yang ingin ku ceritakan, ada banyak hal yang ingin ku bagikan, tapi kau berhenti di tanda tanya itu. Kemudian aku tersenyum, menahan keinginanku untuk berkata ini itu. 
"Ya, benar, itu hanya masa lalu, kata orang, masa depan selalu masih suci."

Monday, February 17, 2014

Pelangi malam hari

"Pernah tidak, orang tuamu bertanya padamu, 'apa kau bahagia dengan jalanmu saat ini?" tanyamu padaku. Aku menggeleng, melanjutkan kesibukanku dengan jilidan kertas di hadapanku.
"Kalau pertanyaan, 'apa yang ingin kau raih di dunia ini?'" tanyamu lagi. Kembali aku menggeleng, setelah beberapa saat memutar ingatanku untuk pertanyaan itu.
"Memangnya ada apa?" tanyaku kemudian. Kali ini kau yang menggeleng, sambil membenahi letak kacamatamu.
"Bagaimana dengan pertanyaan, 'apa yang paling membuatmu paling bahagia?'" lanjutmu lagi, sambil menatapku lekat. Aku menggeleng lagi. 
"Orang tuaku hanya sering bertanya, 'bagaimana sekolahmu? kapan skripsi? kapan lulus? bagaimana bisnismu? apa uangmu masih ada?" kataku kemudian menghela napas, "sementara pertanyaan-pertanyaan tentang kebahagiaan, apa misi hidupku, apa yang ingin aku raih dan dapatkan tak pernah ditanyakan."

Saturday, December 21, 2013

Jiwa dan Raga

Sahabat terbaikku adalah Ragaku. 

"Hai, namaku jiwa," kataku dua dasawarsa lalu. Dia mengulurkan tangannya. "Namaku Raga." Sejak saat itu aku memutuskan untuk menjadi temannya. Kemudian kami bersatu, berenang-renang dalam cairan hangat di dalam kantung seorang yang lembut.

Kami tumbuh bersama, hidup bersama. Bermain, mengkhayal dan belajar bersama. Menjadi sahabat yang tak dapat terlepas hingga merasa satu selama bertaun-taun. Aku dan dia serasa satu dalam jenis.

Hingga beberapa akhir ini aku tersadar, aku dan dia bersatu namun tak jadi satu. "Kau kenapa?" tanyaku beberapa hari yang lalu. Aku merasa tak sejalan dengannya kali ini. Dia menggeleng. Aku benar-benar tak tau apa yang terjadi padanya. Meski seringkali yang terjadi padanya adalah karena ulahku. Kali ini aku tak tau alasannya, dia kesakitan saat aku merasa senang. Padahal biasanya dia akan sakit saat aku sedang bimbang atau kalut di saat bersamaan. "Sungguh, kali ini aku tak bisa menebak kau kenapa, ada apa denganmu, Raga?" Lagi-lagi dia menggeleng.

Thursday, December 12, 2013

Distilasi

"Jadi ini adalah materi terakhir kita untuk distilasi, batch distillation," dosen jangkung berkacamata itu membuka materi angka-angka kali ini. Jeda. Dia seperti tenggelam dalam pikirannya sendiri. 

Aku mengembara dalam perjalanan pikiranku, tentu sendiri.
Jeda panjang selalu diambil olehnya, seolah banyak yang tergantung dalam pikirannya. Ah, aku pengamat orang yang terlalu sok tau. Kembali aku pandang buku di mejaku. Kosong. Aku sedang malas mencatat. Aku tak peduli. 


Dosen pengajar ini kembali menerangkan ini itu, pikiranku kembali terbang. Angka-angka terus dihamburkan, aku tenang menghamburkan waktuku untuk berenang. Menyelami pikiran keruhku sendiri. 


Bagaimana jika pikiranku didistilasi?
Pikiranku berceracau. 


Seberapa banyak ekstrak yang kudapat?
"Temperatur dan lama waktu distilasi mempengaruhi banyak destilat yang didapatkan, itu dinamakan dengan kondisi unsteady state," lanjutnya dan bla-bla-bla kata-katanya samar-samar ku dengar. Setan sedang bertamu di telingaku.

Wednesday, December 4, 2013

selingan

Dari kejauhan, terlihat samar-samar warna merah baju wanita yang sedang berjalan menuju arahku. Kacamata serasa kebutuhan utama saat ini. Ah, tanpamu rasanya semua menghamblur, samar. Semakin dekat wanita itu, semakin jelas apa yang dibawanya. Tangan kirinya membawa satu kantong plastik berukuran besar, yang dari jauhpun aku tau apa isinya. Sederhana, baju yang telah dilaundry. Sedangkan tangan kanannya membawa satu botol plastik air mineral ukuran 1200 ml. 

Dia berjalan sedikit terhuyung ke kiri. Semakin ia berjalan, semakin jelas motif bunga-bunga pada celana selututnya. Sementara asap terus berkeliaran di sekelilingku. Jika aku menjadi dirimu, aku akan membawa keduanya dalam satu. Botol air mineral akan kuletakkan di atas tumpukan baju dalam plastik kemudian aku akan membawanya dengan kedua tanganku. Bukankah kemudian akan lebih ringan dan kau bisa tetap berjalan tegap dan anggun. Lalu ia berlalu melewatiku. Aku tak mengenalnya.


Senyum terbit di bibirku, entah untuk alasan apa. "Mas, nasi gorengnya sudah jadi ini." Ibu nasgor menyadarkan lamunan. Kuambil nasi goreng dalam bungkusan dan kuberikan selembar lima ribuan dan selembar dua ribuan. Segera kulangkahkan kakiku untuk pergi, menjauh dari asap yang menyesakkan.

Saturday, November 16, 2013

Conditional Sentences Type 3

If I had had a motorcycle, I would have went there
Dia menulis satu kalimat dalam lembar putih bersampul birunya. Rindu mungkin dengan bolpoin dan tinta.

If I had hold you close, I would have smiled everyday
Kalimat kedua yang ia tulis di baris ketiga, ada jarak sebaris kosong dari tulisan pertamanya. Ia tersenyum, mengejek dirinya sendiri. "Are you that stupid?" hinanya retoris.

If I had gone, I would have relieved
Kali ini tulisannya tidak rapi, buru-buru ia membalas pesan di ponselnya. Kalimat jawaban singkat.

Lalu Ia tulis judul tiga kalimatnya, "conditional sentences type 3" Tersenyum, gigi rapinya terlihat jelas di antara bibirnya yang kering. "Silly girl!" Satu kalimat hinaan yang lain dan ia bangkit dari kasurnya, meninggalkan notesnya yang tergeletak sembarangan di antara buku-buku berbagai genre. Conditional sentences type 3, for unreal condition, not a fact but she wish it happen in the opposite.

Monday, October 14, 2013

penanda waktu



Malam semakin mendekat, kelamnya semakin hebat  mengalahkan matahari sebelum Pagi datang. Ada yang senang Siang tidur melepas penat, ada yang kehilangan saat Siang menghilang bersama sahabat karibnya, Matahari. Ada gadis muda yang bertanya pada Malam, “Malam, betapa indah kau saat ini, betapa pesonamu selalu membuatku lupa akan sakit dan lelah yang terus menghantui hariku.” Ada Pedagang tua yang berbisik pada Malam, “Malam, cepatlah berlalu, anakku butuh uang untuk biaya sekolahnya, aku harus berdagang lagi esok, cepatlah datangkan matahari.” Malam bimbang, apa yang harus ia lakukan, sementara ia terus berselimut kelam dan bintang. Pagi berbisik pada Malam yang melamun, “Tak perlu bimbang, jangan dengarkan kata manusia, bukankah selalu begitu tindak dan tanduknya?”
                Malam tersenyum, bulan mengembang di ujung bibirnya. “Apakah ada juga yang berbisik padamu, wahai Pagi?”
                Pagi yang riang bersemangat menceritakan semuanya, tanpa beban dalam suaranya. “Tentu saja, tadi ada lelaki muda yang kesal karena aku datang, ia ingin berlama-lama dengan mimpinya dan malas pergi ke sekolah karenaku. Ada juga perempuan muda yang saat membuka matanya justru marah karena masih bisa bertemu denganku. Di saat yang sama ada ibu-ibu yang sudah sampai di pasar untuk membanting tulangnya sebelum aku benar-benar datang. Lalu apa yang harus ku lakukan? Berjalan pelan untuk memuaskan lelaki muda atau mempercepat jalanku agar ibu itu cepat bertemu dengan harapannya akan harinya?”
                Malam mengernyitkan dahinya. Ah, dasar manusia. ”Kau benar, kita harus tetap berjalan sesuai irama kita berdasar perintah Langit. Aku penasaran bagaimana dengan Siang dan Senja.” Malam yang pemikir, dia membayangkan bagaimana jika dia menjadi Siang dan Senja. Tentu aku tak akan sekelam ini.
                Pagi kembali berbisik, ia sudah beranjak dari rasa kantuknya. “Sama saja, baik Siang maupun Senja bernasib sama dengan kita. Tapi kurasa kita tak perlu mengeluh akan keluhan mereka, jika kita melakukan hal yang sama, lalu apa bedanya kita dengan mereka?” senyum pagi mengembang.

Sunday, September 8, 2013

ke mana-mana

ke mana?
ke dalam diri, terdekat yang terjauh.
"Apa kau pernah iri terhadap sesuatu atau seseorang?" tanya wanita itu, senyum mengembang di wajahnya. Keringat yang dingin terjun dari keningnya.
Lelaki di sampingnya mengipas wajahnya dengan daun. "Iri?" keningnya mengernyit, keringat membanjiri kausnya.
"Iya iri, aku sering iri pada beberapa orang di dalam hidupku."
"Kenapa harus iri?"
"Karna kadangkala mereka memiliki apa yang aku inginkan, atau seringkali di mataku mereka mendapatkan pencapaian yang lebih tinggi."
Sang Lelaki menawarkan daun kuning itu pada Wanitanya.
"Padahal setiap orang memiliki jalan sendiri, dan modal yang berbeda pula."
"Aha, jika mau diteruskan irinya ya akan jadi iri yang hebat. Kita diciptakan berbeda sedangkan menginginkan pencapaian yang sama, ya mana bisa."
"Iri tidak membawamu ke mana-mana." Lelaki itu terlentang di atas rerumput kering, angin malam berlarian kecil di atas wajahnya.
"Siapa bilang, entah itu iri, entah itu luka, itu akan membawa kita ke mana-mana."
"Ke mana? Neraka?"

Monday, August 5, 2013

Titik (dan) Sudut

Dentang jam riang berbunyi menunjukkan pukul 11 malam. Angka 23:00 dalam jam digital Lelaki itu tak menghentikan kegiatannya, menonton siaran pertandingan sepak bola klub favoritnya. 10 menit lagi dan pertandingan ini usai, batinnya. Refleks Lelaki berkaus putih itu menoleh ke arah jendela di mana ada Wanitanya sibuk mengamati sesuatu. Lelaki itu menggelengkan kepalanya.
"Yeah!" Dia mengepalkan tangannya, kecintaannya pada klub itu tak pernah tergantikan sejak ia masih berseragam putih merah. Lalu dia menghampiri wanitanya yang masih tak beranjak dari meja di dekat jendela. "Ckck, mau ku ajari main rubik kah? Kok sedari tadi cuma gantian melihat rubik, bola kecil ini sama jendela?" Wanita itu hanya menggeleng.
"Ada apa? Ingin keluar kah? Masih suntuk dengan kejadian tadi siang?" Wanita itu lagi-lagi menggeleng.
"Ternyata semua berawal dari titik ini," Sang Wanita menunjuk salah satu sudut rubik itu.
"Apanya?"

Monday, May 27, 2013

Angin


Kelabu mendung menggulung mengambang antara langit dan bumi. Angin sore menghembus pelan menemani kelabu awan. Wanita bercelana olahraga di halaman rumahnya itu sedang memejamkan matanya, merasakan angin membelai pipinya, menerbangkan ujung kerudungnya, menjatuhkan daun pepohonan di sekitarnya. Hmm, gumamnya pelan sambil tersenyum.
                Beberapa meter dibelekang wanita itu, seorang Lelaki berkacamata tanpa bingkai tersenyum memandang Wanitanya yang merentangkan tangannya itu. “Wah, main angin nggak ngajak-ngajak nih.” Katanya, mengagetkan wanitanya.
“Yah siapa suruh asyik sendiri baca buku, nggak bisa diajak ngobrol.”
“Hehehe, iya iya maaf.” Kemudian lelaki itu berdiri di samping wanitanya, merentangkan tangan dan memejamkan matanya. Lalu tersenyum.
“Kau suka angin juga?” tanya Sang Wanita kemudian.
Sang lelaki tetap terpejam, tetap merentangkan tangan dan merasakan ujung hidungnya disapa oleh angin sore yang sepoi. “Tidak terlalu, aku lebih menyukai wanita yang sangat ingin menjadi angin.”
Sang wanita diam saja. Dasar Lelaki, batinnya. “Andai angin bisa diwarnai ya, kita bisa melihat bagaimana geraknya. Sayang sekali angin itu tak punya warna, hanya bisa dirasa saja keberadaannya, datang dan perginya.”
“Kurasa lebih baik angin tanpa warna, toh tanpa warnapun, kita tetap percaya bahwa angin itu ada kan?”