"Setiap papila tidak hanya memiliki satu reseptor rasa, tapi bisa empat sampai lima reseptor."
Baiklah, aku gambar penampakan si papila secara umum. Papila berbentuk circumuallate. Bagian atas adalah papila, di dalamnya ada beberapa reseptor bernama taste bud yang 'batang'nya adalah syaraf. Jadi benar, teori wilayah rasa itu sudah jatuh. Setiap bagian di lidah kita bisa merasakan semua rasa dasar. Walau memang ada daerah-daerah tertentu yang lebih sensitif terhadap rasa tertentu.
Aku mengontrol handphone sesekali, checking apakah fungsi recorder masih berjalan. Aku tak ingin tertinggal satu kata pun.
Showing posts with label sudut pandang. Show all posts
Showing posts with label sudut pandang. Show all posts
Saturday, April 9, 2016
Tuesday, March 29, 2016
時間
Apakah itu waktu?
Ia hanya sebuah kata benda. Invisible. Sering melakukan pekerjaan, entah berlari, entah berjalan atau sekedar ingin dihentikan.
Apakah itu waktu?
Ia sering disandingkan dengan kata sifat, yang pendek, yang panjang, yang tepat (?)
Ia hanya sebuah kata benda. Invisible. Sering melakukan pekerjaan, entah berlari, entah berjalan atau sekedar ingin dihentikan.
Apakah itu waktu?
Ia sering disandingkan dengan kata sifat, yang pendek, yang panjang, yang tepat (?)
Labels:
curhat,
kicau kacau,
monolog,
sudut pandang
Wednesday, November 5, 2014
Lebur melebur lebur
Mungkin memang ada benarnya, tipe orang mempengaruhi bagaimana dia bertindak kepada orang lain. Saya selalu berpikir, apakah kata2 saya akan menyakiti orang lain atau tak.
Melankolis. Saya dominan dengan tipe kepribadian yang itu. Untuk berbicara pada orang lain, menuangkan apapun yang saya pikirkan dan saya rasakan tentang mereka itu bukan pekerjaan yang mudah bagi saya. Sebelum mengatakan ini itu, saya selalu berpikir, 'apakah kalau saya bicara begitu akan menyakiti hatinya, apakah benar kalau mereka begini, mereka begitu, apa bukan saya yang salah, apa nanti mereka tak akan terluka oleh kata-kata saya.' Well, terlalu banyak berpikir itu kadang melelahkan, seringkali malah itikat kita untuk menyampaikan uraian perasaan jengkel dan kesal jadi tak tersampaikan. Begitulah saya, seringkali diam kalau kesal.
Melankolis. Saya dominan dengan tipe kepribadian yang itu. Untuk berbicara pada orang lain, menuangkan apapun yang saya pikirkan dan saya rasakan tentang mereka itu bukan pekerjaan yang mudah bagi saya. Sebelum mengatakan ini itu, saya selalu berpikir, 'apakah kalau saya bicara begitu akan menyakiti hatinya, apakah benar kalau mereka begini, mereka begitu, apa bukan saya yang salah, apa nanti mereka tak akan terluka oleh kata-kata saya.' Well, terlalu banyak berpikir itu kadang melelahkan, seringkali malah itikat kita untuk menyampaikan uraian perasaan jengkel dan kesal jadi tak tersampaikan. Begitulah saya, seringkali diam kalau kesal.
Labels:
sudut pandang,
thinking
Monday, November 3, 2014
Black Side
Sisi hitammu menakjubkan. Ia lebih besar dari sisi putihmu, lebih hebat, lebih kuat dari apapun yang membuatmu terang. Lihatlah, dia sering menggeliat dalam ketakutan akan ketakmampuan dirimu sendiri, dia bertumbuh menjadi kecemburuan pada apa yang tak bisa kau usahakan. Dengarlah, dia membisikimu apa yang harusnya kau acuhkan. Dia hebat, menjelma menjadi rasa iri berlebihan, perasaan ingin menguasai dan pandangan merendahkan. Kau punya semua sisi hitam itu, yang berdiri tegap di ujung ruang kepalamu, selalu siap berperang dengan kewaspadaanmu.
Labels:
curhat,
sudut pandang
Friday, October 17, 2014
Jika Aku Tak Punya Kepala
10月4日Ku tuliskan “jika
aku tak punya kepala” pada notes handphoneku. Aku lupa ingin menulis apa. Begitulah,
ternyata aku seorang manusia, yang bisanya lupa. Dan kadang sungguh tak bisa
melupa.
Tapi, jika aku tak punya kepala, apa jadinya? Jika tiap
manusia tak punya kepala, bagaimana jadinya?
Karena pada kepala, tempat tertinggi pada manusia, keangkuhan
dan kesombongan bermula. Dari kepala, pandangan merendahkan itu berasal, dari
kepala suara sumbang diabaikan, dari kepala pula, lidah mudah merajut luka.
Labels:
sudut pandang
Saturday, February 1, 2014
tundukku
If I say as a soul, you know I'm free
Bagaimana bisa ku tahan bola kaca di mataku tak pecah saat ku dengar apa yang sudah kuduga itu. Sementara aku masih bertahan dalam kebenaran yang ku pegang. Aku selalu menurutimu, kebohongan terakhirku sudah bertahun lalu, sementara tundukku padamu selalu sejengkal lebih rendah daripada angkuhku.
Jadi ini masih salahku? Sementara kau benar-benar tak bicara denganku, bahkan ketika ku ajak kau berbincang.
Dan ternyata itu masalahmu, perdamaian dalam hatimu belum kau kibarkan. Dan aku yang kena tiang benderanya. Kau serahkan padaku. Padahal jelas-jelas kau bilang apa yang kau mau, apa yang berlawanan dengan fakta tentangmu dan seirama dengan keinginanmu berpuluh tahun lalu. Ini masih salahku?
Jangan pernah bilang kau tau aku. Kau tak kan pernah tau. Bahkan pada dirimu sendiri kau tak mau berdamai, bagaimana kau mau berdamai dengan keadaan yang selalu membuat orang lain berada di sisi yang salah. Jika bisa aku teriak, ku teriakkan apa yang tak ku suka darimu. Tapi bukankah tundukku harus selalu sejajar dengan kakimu?
But now I'm a human, that don't have a freedom. Death is my freedom
Bagaimana bisa ku tahan bola kaca di mataku tak pecah saat ku dengar apa yang sudah kuduga itu. Sementara aku masih bertahan dalam kebenaran yang ku pegang. Aku selalu menurutimu, kebohongan terakhirku sudah bertahun lalu, sementara tundukku padamu selalu sejengkal lebih rendah daripada angkuhku.
Jadi ini masih salahku? Sementara kau benar-benar tak bicara denganku, bahkan ketika ku ajak kau berbincang.
Dan ternyata itu masalahmu, perdamaian dalam hatimu belum kau kibarkan. Dan aku yang kena tiang benderanya. Kau serahkan padaku. Padahal jelas-jelas kau bilang apa yang kau mau, apa yang berlawanan dengan fakta tentangmu dan seirama dengan keinginanmu berpuluh tahun lalu. Ini masih salahku?
Jangan pernah bilang kau tau aku. Kau tak kan pernah tau. Bahkan pada dirimu sendiri kau tak mau berdamai, bagaimana kau mau berdamai dengan keadaan yang selalu membuat orang lain berada di sisi yang salah. Jika bisa aku teriak, ku teriakkan apa yang tak ku suka darimu. Tapi bukankah tundukku harus selalu sejajar dengan kakimu?
But now I'm a human, that don't have a freedom. Death is my freedom
Labels:
kacau,
sudut pandang
Wednesday, January 15, 2014
Misi Agen Kanan
Report. Laporan.
Ini adalah rangkaian laporan dari Agen kanan. Agen Kanan
adalah sebutan untuk memperoleh kebahagiaan, otak kanan yang berperan besar.
Agen Kanan kali ini melangkah di jalan kemanusiaan bidang pendidikan, berusaha
memasuki gerbang salah satu pintu yang menuju jalan lain yang biasa ditempuh.
Ya, mencoba melalui salah satu titik untuk menjadi salah satu volunteer di Inspiring Youth Educators.
Agen Kanan sedang bersinyal penuh, kobaran api menggebu membakar keraguan. Well, this is it. Bisa dibilang ini
adalah titik akhir untuk mencapai pintu itu.
Pintu volunteer yang tiba-tiba ingin dibuka, karena satu dua
alasan di masa lampau. Karena pernah menggores satu kalimat pada lembar bekas
yang tak terpakai. ‘Jangan hanya jadi
pohon dan dan diam. Hanya tumbuh untuk diri sendiri. Jadilah pohon yang
menghidupi, bernapas untuk sekitar.’ Berbekal kalimat itu, yang tak ingin
hanya jadi coretan, yang tak ingin hanya sekedar melihat, mendengar dan
berkomentar, maka berjalanlah perlahan kaki Agen Kanan untuk berusaha bernapas
untuk sekitar. Sama seperti pohon yang tak hanya menyerap air dari tanah dan menghirup
karbon dioksida dari lingkungan, Agen Kanan juga harus bisa bernapas untuk
sekitar, membagikan apa yang telah didapatkan untuk bermanfaat bagi kehidupan. To be inspire.
Labels:
memory,
sudut pandang
Thursday, January 9, 2014
Pencapaian
Selamat malam wahai dunia
dalam alam pikir.
Beberapa tawa terdengar dari sela desau kipas di bawah kotak
kabel tipis. Kacamata sudah bertengger di tempatnya berada. Flashdisk tertancap
tepat di wadahnya, siap dilahap untuk diserap sarinya.
Apa yang harus ku
lakukan.
Pikiran terus mengulang-ulang satu tema. Lidah terus berkata
tentang satu bahan, meski sejujurnya bukan itu yang ada dalam kepala, sama
sekali bukan tentang topik utama.
Ke mana kakiku harus
ku bimbing? Jalan mana yang harus ku tempuh?
Lalu beberapa profesi muncul sekelebatan. Pengusaha. Pegawai
kantoran. Pengajar. Teknisi. Kemudian satu kata hadir mengagetkan. BERHASIL
Apa arti kata itu?
Berhasil? Ber-hasil?
Labels:
kacau,
sudut pandang
Wednesday, January 1, 2014
2014
Selamat datang 2014.
Welcome to the new era
hari ini kolom bagian kanan sudah ada empat tahun yang berbeda, tiga tahun dalam perjalanan empat tahun saya menulis. Well actually saya sudah menulis sejak SMP, heuheu, nulis geje. Sama sih sampai saat ini juga masih nggak jelas nulis apa. Tapi paling tidak, buat saya menulis itu pelepasan. Pelepasan segala-gala yang menggalaui pikiran saya.
Taraaaa...
2014!!
Saya tak bicara soal resolusi, hanya akan bicara soal hal-hal yang ingin saya selesaikan tahun ini. (insya Allah sih, kalau diberi napas sampai akhir tahun)
1. Lulus atau paling tidak skripsi beres tahun ini (padahal mulai aja belom -___-). Saya sih masih ingin main-main, masih ingin menikmati masa muda, tapi ya kok kalau dipikir-pikir masa saya tega sih berlama-lama bikin beban orang tua berat gitu. Tentu orang tua saya menganggap bukan beban, tapi sudah cukup ah saya jadi anak yang biaya sekolahnya mahal terus.
2. Saya ingin jalan-jalan lagi. Semarang, Bandung, Bromo, pantai-pantai, wait me ya sayangs.
3. Saya mau memulai proyek 'hijau' saya. Mendisiplinkan diri sendiri dulu, nanti lanjut ajak-ajak orang lain
4. *nggak bisa ditulis*
5. *sok-sok-an nggak bisa cerita*
Hehe asli poin empat ada yang mau ditulis tapi males mau ceritain (cuma rachmi dan tami yang tau. Heuheu) poin lima, itu gilanya saya aja sih.
Tepar seharian ke Wonorejo. capek gueh *dikeplak orang Jember* *Jember ae guah gueh*
Oke welcome 2014.
Welcome to the new era
hari ini kolom bagian kanan sudah ada empat tahun yang berbeda, tiga tahun dalam perjalanan empat tahun saya menulis. Well actually saya sudah menulis sejak SMP, heuheu, nulis geje. Sama sih sampai saat ini juga masih nggak jelas nulis apa. Tapi paling tidak, buat saya menulis itu pelepasan. Pelepasan segala-gala yang menggalaui pikiran saya.
Taraaaa...
2014!!
Saya tak bicara soal resolusi, hanya akan bicara soal hal-hal yang ingin saya selesaikan tahun ini. (insya Allah sih, kalau diberi napas sampai akhir tahun)
1. Lulus atau paling tidak skripsi beres tahun ini (padahal mulai aja belom -___-). Saya sih masih ingin main-main, masih ingin menikmati masa muda, tapi ya kok kalau dipikir-pikir masa saya tega sih berlama-lama bikin beban orang tua berat gitu. Tentu orang tua saya menganggap bukan beban, tapi sudah cukup ah saya jadi anak yang biaya sekolahnya mahal terus.
2. Saya ingin jalan-jalan lagi. Semarang, Bandung, Bromo, pantai-pantai, wait me ya sayangs.
3. Saya mau memulai proyek 'hijau' saya. Mendisiplinkan diri sendiri dulu, nanti lanjut ajak-ajak orang lain
4. *nggak bisa ditulis*
5. *sok-sok-an nggak bisa cerita*
Hehe asli poin empat ada yang mau ditulis tapi males mau ceritain (cuma rachmi dan tami yang tau. Heuheu) poin lima, itu gilanya saya aja sih.
Tepar seharian ke Wonorejo. capek gueh *dikeplak orang Jember* *Jember ae guah gueh*
Oke welcome 2014.
Labels:
sudut pandang
Tuesday, December 24, 2013
The Host
Sang Inang.
Baru selesai saya menonton film The Host, tentu bukan film
baru, tentu juga tidak menonton di bioskop. You
know this movie? Or maybe you know the novel? Kira-kira tiga tahun lalu
saya membaca novel The Host karya Stephehie Meyer, novel seorang teman saya
juga, hehe. Stephenie Meyer, penulis wanita luar biasa saya pikir. Saya takjub
dengan bagaimana cara dia membayangkan, bagaimana cara dia berimajinasi. Sama
seperti J.K Rowling yang imajinasinya tak kalah luar biasa. Ini orang-orang
bagaimana caranya berkhayal bisa seperti itu.
The Host. Cerita tentang penjajahan bumi oleh makhluk asing
yang actually hanya karena seonggok jiwa, yang bisa masuk ke dalam tubuh
manusia dan jiwa manusia di dalamnya bisa mati – atau tidak. Kalau
dipikir-pikir sih memang tidak mungkin ini terjadi, tapi ah apa yang tidak
mungkin? Tidak ada yang tidak mungkin menjadikan segala sesuatu menjadi
mungkin. Maybe yes maybe no.
Labels:
film,
review,
sudut pandang
Saturday, June 29, 2013
cita
"Memangnya setelah lulus kamu pengen kerja dimana?" dia bertanya setelah menjelaskan tentang keinginannya setelah ini yaitu menjadi pegawai di perusaahaan X. Aku diam. "Ha?" aku berpikir, aku tak tau aku ingin bekerja di mana, aku tak menentukan satu perusahaan pun untuk mengaplikasikan ilmuku yang masih dangkal.
Kemudian hening di antara kami. Aku tak tau aku ingin ke mana. Mengapa tak seperti dulu saat masih kecil. Pikiranku tersedot ke masa lalu. Masa saat aku begitu mudahnya menentukan pilihan ingin menjadi apa.
Aku pernah menuliskan menjadi guru, aku pernah menuliskan ingin menjadi arsitek dan akhirnya aku hanya menuliskan ingin keliling dunia. Saat di masa pertengahan sekolah menengah, aku begitu ingin menjadi dokter.
Sekarang, jika ditanya aku ingin menjadi apa, selalu kujawab sekenanya, "aku ingin jadi presiden." Semakin bertambah usia, semakin banyak yang dipertimbangkan, semakin tak mudah menentukan ingin menjadi apa. Aku, tak menentukan ingin menjadi apa, aku ingin keliling dunia, aku ingin hidup seribu tahun lamanya, aku ingin bahagia, sesederhana itu. Jika mungkin ada satu profesi yang ingin ku lakukan adalah, aku ingin menjadi....
Kemudian hening di antara kami. Aku tak tau aku ingin ke mana. Mengapa tak seperti dulu saat masih kecil. Pikiranku tersedot ke masa lalu. Masa saat aku begitu mudahnya menentukan pilihan ingin menjadi apa.
Aku pernah menuliskan menjadi guru, aku pernah menuliskan ingin menjadi arsitek dan akhirnya aku hanya menuliskan ingin keliling dunia. Saat di masa pertengahan sekolah menengah, aku begitu ingin menjadi dokter.
Sekarang, jika ditanya aku ingin menjadi apa, selalu kujawab sekenanya, "aku ingin jadi presiden." Semakin bertambah usia, semakin banyak yang dipertimbangkan, semakin tak mudah menentukan ingin menjadi apa. Aku, tak menentukan ingin menjadi apa, aku ingin keliling dunia, aku ingin hidup seribu tahun lamanya, aku ingin bahagia, sesederhana itu. Jika mungkin ada satu profesi yang ingin ku lakukan adalah, aku ingin menjadi....
Labels:
sudut pandang
Monday, June 10, 2013
Phi Brain ~
Phi Brain.
![]() |
| Kepala Sekolah, JIkugawa, Gammon, Cubic, Ana, Kaito, Nonoha, Rook, Bishop |
Phi brain adalah salah satu anime yang isi ceritanya tentang
puzzle. Ya, bukan puzzle yang biasanya dimainkan anak kecil begitu, ini puzzle
3 dimensi kebanyakan. Tokoh utamanya adalah Kaito yang memiliki julukan Einstein.
Lalu sahabat-sahabat Kaito, Nonoha, Gammon atau Galileo, Cubic atau Edison, Ana
atau Da Vinci, dan Jikugawa sebagai Newton.
Labels:
anime,
spirit,
sudut pandang
Tuesday, June 4, 2013
Pemahaman
Seringkali pemahaman timbul karena adanya proses pengulangan, tidak serta merta muncul saat pertama membaca atau berjumpa.
Bisa disamakan seperti saat kita bertemu dengan seseorang, lantas sedikit banyak kita 'tau' bagaimana penampakan dan tingkah lakunya. Ya, sekedar tau adalah proses pembentukan persepsi saat hanya sekali bertemu. Sedangkan memahami seseorang adalah hasil dari suatu proses, dari tau selanjutnya mencari tau, menelaah, mengkaji, lalu persepsi berbeda terbentuk dan akhirnya memahami.
Seandainya konsep belajar seperti itu, luar biasa jadinya. Membaca suatu materi sekali maka akan terbentuk pengetahuan. Lalu mengulang, mengkaji, dengan cara mencari tau lebih lanjut, maka pengetahuan itu tidak akan dangkal, timbullah pemahaman.
Iya, begitulah racau saya malam ini.
Ini efek radikal bebas yang begitu menarik di kepala saya. Karena adanya radikal bebas itulah maka antioksidan tidak sia-sia. Ah, tiada yang diciptakan sia-sia bukan?? :)
Labels:
sudut pandang
Monday, June 3, 2013
waiting
waiting...
menunggu.
is boring?
ehm..
oke. Hai hai..
Siapa yang sedang menunggu? menanti? waiting? Hayo ngacung! Bagaimana rasanya?
Saya juga sedang menunggu saat ini. Ada beberapa hal yang saya nantikan. Pertama, pengumuman sebuah lomba yang saya ikuti beberapa minggu yang lalu, katanya sih diumumkan 12 Mei kemarin tapi sampai sekarang tak ada. Okelah, hehe meskipun diumumkan kapan juga, saya tak terlalu yakin akan dapat nominasi, heuheu. Cerita yang saya kirimkan gueje hehehe. Titik. Hal kedua yang saya nantikan beberapa hari yang lalu adalah pengumuman panitia. Sekarang sih sudah ada pengumumannya, tidak sesuai dengan apa yang benar-benar saya harapkan. Tapi......
Labels:
sudut pandang
Friday, March 29, 2013
Apapun itu
Siang, panas, dan aku bosan.
Kuambil ponselku, memasang headset di ujungnya, lalu memilih playlist lagu-lagu favoritku, Dear God, Feel, Knockin' on Heaven Door, lalu More Than Words. Beranjak lagi ke lagu-lagu lainnya, lagu-lagu yang dulu pernah jadi lagu sendu, Good Bye, hey! Aku dulu pernah menangis mendengar lagu ini.
Kuambil ponselku, memasang headset di ujungnya, lalu memilih playlist lagu-lagu favoritku, Dear God, Feel, Knockin' on Heaven Door, lalu More Than Words. Beranjak lagi ke lagu-lagu lainnya, lagu-lagu yang dulu pernah jadi lagu sendu, Good Bye, hey! Aku dulu pernah menangis mendengar lagu ini.
Aku menggali-gali lagi kenangan-kenangan lamaku, memangkas waktu, merapatkan rasa, daaan tak kutemukan lagi sakit dan duka yang dulu membakar senyumku. Tak kutemukan lagi air mata yang membuatku seakan hancur, berlebihan, ingin kutertawakan diriku yang dulu, menyedihkan, kekanakan. Benar bukan, rasa, apapun itu, bisa menjadi hambar dengan berjalannya waktu, ya, sedihku luruh, rasaku? Masih perlu ditanyakan? Tidak ada lagi di sana, meski sudah kucari, meski sudah kucoba untuk ditemukan, tidak ada lagi di sana, tidak ada lagi. Entah ke mana.
Waktu, apapun itu, meski tak nampak, bukankah ia adalah media transformasi yang handal? Rasa, apapun itu, bukankah tak pernah selalu sama? Karena bukan aku, bukan aku yang mengendalikan semuanya, bukan aku. Aku tak punya kendali akan rasaku sendiri, sungguh.
Labels:
curhat,
sudut pandang
Thursday, September 27, 2012
Apakah kita manusia??
Kita disebut manusia bukan karena tangan kita.
Tapi karena akal.
Lalu mengapa kita sering menyelesaikan masalah dengan tangan kita? Bertawuran, memegang belati, pedang, sabit, rantai, amarah terkumpul di satu titik, tangan. Kemanakah akal kita saat itu? Pantaskah kita disebut manusia??
Tapi karena akal.
Lalu mengapa kita sering menyelesaikan masalah dengan tangan kita? Bertawuran, memegang belati, pedang, sabit, rantai, amarah terkumpul di satu titik, tangan. Kemanakah akal kita saat itu? Pantaskah kita disebut manusia??
Labels:
sudut pandang,
think
Thursday, September 20, 2012
Relativitas
“Kau tau teori relativitas?” Tanya sang Wanita kepada
Prianya, jangkrik mengiringi hembusan napas mereka berdua.
“E=mc2?”
jawab Sang Lelaki datar, dia sedang melihat hijau di pelupuk matanya,
pemandangan lembah di puncak yang berada di kakinya.
“Iya, E=mc2 tapi aku tak tertarik dengan rumus
itu,” kata Sang Wanita datar.
“Lalu?” kata Sang Lelaki sambil menatap wanitanya.
Labels:
Flash fiction,
sudut pandang
Tuesday, August 28, 2012
Dua topik pagi ini -
Meninggalkan pagi yang kian jauh dari kebutaannya, saya menemui dua topik yang sangat hangat pagi ini. Seperti teh hangat dalam cangkir keramik yang juga ikut menghangat.
Labels:
spirit,
sudut pandang
Mau jadi apa negeri ini?
Mau jadi apa negeri ini??
Facebook tempat alayers ternyata belum sehat juga. Masih ada saja anak muda yang namenya puanjang dan ualay. Kalo saya mau juga saya bisa jadi alay nih sekarang, nama saya jadi Owliphieya Yoofanandwa. Aih tapi inget umurlah, udah mau kepala dua masa masih alay begitu.
Facebook tempat alayers ternyata belum sehat juga. Masih ada saja anak muda yang namenya puanjang dan ualay. Kalo saya mau juga saya bisa jadi alay nih sekarang, nama saya jadi Owliphieya Yoofanandwa. Aih tapi inget umurlah, udah mau kepala dua masa masih alay begitu.
Labels:
spirit,
sudut pandang
Thursday, August 2, 2012
tanya (?)
Sebenarnya seberapa besar bumi ini? Merasakan jauhnya jarak Malang Jember yang pada peta tak sampai 10 senti saja sudah malas apalagi jarak dari ujung utara sampai selatan bumi ini. Jadi hey Bumi, seberapa besar dirimu??
Sebenarnya seberapa luas jagat raya ini? Membayangkan besarnya bumi saja tak mampu apalagi luasnya jagat raya. Matahari yang terasa dekat tiba-tiba menyentak, tak sedekat itu, dia jauh. Jadi hey jagat raya, seluas apakah dirimu?
Dan...
Sekecil apakah diri ini hingga berani merasa dan berlaku 'tinggi' ?
Dan lagi, Engkau, bukankah sungguh Maha Besar? Subhanallah..
Labels:
sudut pandang,
thinking
Subscribe to:
Posts (Atom)





