"Apakah kau mencintainya?" tanyanya sambil melirik perutku.
"Tentu, dia alasanku bertahan hidup."
"Bukan untuk dirimu sendiri?"
"Selama ini aku hidup untuk kedua orang tuaku. Kini untuknya."
"Sejak kapan kau kehilangan dirimu sendiri begini?" tanyanya, ada nada sedih pada suaranya, justru ingin membuatku tertawa.
"Kau tau itu," jawabku akhitnya menahan tawaku.
Showing posts with label monolog. Show all posts
Showing posts with label monolog. Show all posts
Saturday, July 20, 2019
Rindu Kembali
"Sudah berapa lama kau tak menulis?" tanyanya sinis. Pertanyaan pertama setelah sekian bulan lamanya, dia lontarkan dengan nada sinis.
"Entah," jawabku malas-malasan.
"Tidak rindu?" masih dengan nada sinisnya.
"Rindu. Seakan kehilangan diriku sendiri, kehilangan arti dari diriku sendiri."
"Itu karena kau menilai bahwa kau ada saat kau berpikir dan menulis," komentarnya lagi.
"Ya. Kau sangat mengertiku."
"Jadi apakah kau akan berpikir dan menulis lagi?"
"Tak tahu," kali ini aku meragu.
"Lantas buat apa kau kembali?"
"Aku merindukan diriku sendiri."
Tak ada pertanyaan lagi. Dia selalu mengerti aku. Pertanyaannya hanya ingin menggiringku pada kesimpulan akhir ini. Dia selalu tau jawabanku atas pertanyaannya. Aku.
"Entah," jawabku malas-malasan.
"Tidak rindu?" masih dengan nada sinisnya.
"Rindu. Seakan kehilangan diriku sendiri, kehilangan arti dari diriku sendiri."
"Itu karena kau menilai bahwa kau ada saat kau berpikir dan menulis," komentarnya lagi.
"Ya. Kau sangat mengertiku."
"Jadi apakah kau akan berpikir dan menulis lagi?"
"Tak tahu," kali ini aku meragu.
"Lantas buat apa kau kembali?"
"Aku merindukan diriku sendiri."
Tak ada pertanyaan lagi. Dia selalu mengerti aku. Pertanyaannya hanya ingin menggiringku pada kesimpulan akhir ini. Dia selalu tau jawabanku atas pertanyaannya. Aku.
----
Labels:
monolog
Sunday, September 4, 2016
(B)utuh
“Apalah arti dari kata-kata yang kau rangkai itu?” protes
pertamamu hari ini. “Hanya untuk sedetik saja kau resapi lalu kau uapkan hilang
dengan suhumu yang sudah keterlaluan itu?” sarkasmemu yang keterlaluan.
“Apalah arti dari semua yang kau karang itu?” protesmu yang
kedua.
Aku mendengus kesal. Bukan padamu, lebih pada diriku
sendiri.
Tapi rupanya kau menyangka aku kesal padamu. Merah padam
mukamu itu. “Aku begini karna aku peduli padamu, sudah bermingu-minggu dan
perkembanganmu nihil. Kau tau kau membuang begitu banyak waktu yang berharga!”
“Aku tau!” bentakku. Aku ingin kau diam. Aku sedang lelah
beradu kata.
“Kau tau, tapi terus begitu. Kau hanya menghabiskan detik-detikmu
demi kesenanganmu. Kau abaikan semua tugas dan hal yang harus kau kerjakan
tuntas.”
Baiklah, aku tau kau
kecewa padaku. Sama, aku juga kecewa pada diriku sendiri.
Tuesday, March 29, 2016
時間
Apakah itu waktu?
Ia hanya sebuah kata benda. Invisible. Sering melakukan pekerjaan, entah berlari, entah berjalan atau sekedar ingin dihentikan.
Apakah itu waktu?
Ia sering disandingkan dengan kata sifat, yang pendek, yang panjang, yang tepat (?)
Ia hanya sebuah kata benda. Invisible. Sering melakukan pekerjaan, entah berlari, entah berjalan atau sekedar ingin dihentikan.
Apakah itu waktu?
Ia sering disandingkan dengan kata sifat, yang pendek, yang panjang, yang tepat (?)
Labels:
curhat,
kicau kacau,
monolog,
sudut pandang
Thursday, March 17, 2016
A Thought and Task - Free Day. I need it, asap
"Aku tak mengenalmu!" bentakku kasar. Amarah sedang menguasaiku.
Bagaimana aku bisa tak mengenalmu seperti ini, ini sudah keterlaluan. Kau tidak seperti biasanya. Aku tak bisa lagi meramal kenapa dan apa.
"Ada apa? mengapa kau berubah begini?" tanyaku lagi, sedikit menahan nada-nada tinggi yang mungkin terlontar.
Kau diam saja bagaimana aku tau? aku sudah mencoba beberapa hal, tapi kau tetap bergeming. Kau biarkan panas itu bersarang dalam tubuhmu, sementara lidahmu tak suka mencecap yang pahit, dan kakimu tak suka melangkah menuju yang berbaju putih.
"Jadi aku harus bagaimana?" rasanya pertanyaan ini kuajukan untukku sendiri.
"Kau tau sendiri, aku tak bisa diam saja, aku tak bisa tak melakukan apa-apa sementara begitu banyak urusan yang harus ku selesaikan, atau sekedar ku cicil. Jika terus kau begini, aku bisa apa?" rasanya aku berbicara sendiri, dia tak merespon apa-apa.
Bagaimana aku bisa tak mengenalmu seperti ini, ini sudah keterlaluan. Kau tidak seperti biasanya. Aku tak bisa lagi meramal kenapa dan apa.
"Ada apa? mengapa kau berubah begini?" tanyaku lagi, sedikit menahan nada-nada tinggi yang mungkin terlontar.
Kau diam saja bagaimana aku tau? aku sudah mencoba beberapa hal, tapi kau tetap bergeming. Kau biarkan panas itu bersarang dalam tubuhmu, sementara lidahmu tak suka mencecap yang pahit, dan kakimu tak suka melangkah menuju yang berbaju putih.
"Jadi aku harus bagaimana?" rasanya pertanyaan ini kuajukan untukku sendiri.
"Kau tau sendiri, aku tak bisa diam saja, aku tak bisa tak melakukan apa-apa sementara begitu banyak urusan yang harus ku selesaikan, atau sekedar ku cicil. Jika terus kau begini, aku bisa apa?" rasanya aku berbicara sendiri, dia tak merespon apa-apa.
Wednesday, March 2, 2016
lama tak bersua
Kita duduk berdampingan. Bahu kita berjarak sejengkal, wangi
parfummu masih sama seperti sebelumnya. Rambutmu yang biasa berantakan kini
terlihat rapi. Sudah berapa lama aku tak memperhatikanmu, aku tak tau. Sudah beberapa
kali kau mengajakku berdiskusi dan aku hanya menolak dengan alasan kesibukanku.
Kini, saat aku tak tau harus pergi ke mana, ku ketuk pintu
rumahmu yang selalu tak terkunci.
Setengah jam sudah kita berdiam diri di sini, di halaman
rumahmu yang kaku, hanya satu dua kaktus, sebatang mawar yang entah sekering
apapun tetap hidup, serumpun melati yang jarang kau siram namun tetap berbunga,
dan yang paling aneh adalah satu pot kosong yang kau isi dengan beberapa siung bawang
merah.
Labels:
monolog
Thursday, March 28, 2013
kau
hai kau, kapan kau datang?
kemarin aku sempat takut, kuku jari tanganku sungguh membiru, ku pikir kau akan datang saat itu..
kapan kau menyapaku?
tiba-tiba aku berpikir, sempatkah aku berpamitan pada orang tuaku saat kau datang..
kau, dimana sekarang kau berada?
kadangkala aku ingin kau datang saja saat dingin merayap di tulang tungkai kakiku, menjelma menjadi salju yang membeku, kupikir kenapa kau tak datang saja?
ah, kau seberapa jauhnya dariku?
bisakah kau berikan pertanda saat kau akan datang? ah iya, setiap hari adalah pertanda, setiap saat adalah waktu yang berubah wujud menjadi kau, jika aku terus sadar dan membuka mata..
kau, apa yang akan kau lakukan kemudian?
nanti, antarkan aku pada Rinduku, bisa tidak ya?
kau, kereta kematianku....
kemarin aku sempat takut, kuku jari tanganku sungguh membiru, ku pikir kau akan datang saat itu..
kapan kau menyapaku?
tiba-tiba aku berpikir, sempatkah aku berpamitan pada orang tuaku saat kau datang..
kau, dimana sekarang kau berada?
kadangkala aku ingin kau datang saja saat dingin merayap di tulang tungkai kakiku, menjelma menjadi salju yang membeku, kupikir kenapa kau tak datang saja?
ah, kau seberapa jauhnya dariku?
bisakah kau berikan pertanda saat kau akan datang? ah iya, setiap hari adalah pertanda, setiap saat adalah waktu yang berubah wujud menjadi kau, jika aku terus sadar dan membuka mata..
kau, apa yang akan kau lakukan kemudian?
nanti, antarkan aku pada Rinduku, bisa tidak ya?
kau, kereta kematianku....
Tuesday, March 26, 2013
Ijazah
Kalau misalnya akhir sekolah tak ada ijazah, apa kau akan tetap sekolah?
Tentu, niatku kan menuntut ilmu, eh tunggu dulu, tak ada ijazah? Lalu bagaimana tentang adanya simbol kalau kita sudah bersekolah?
Jadi kau bersekolah hanya simbolis belaka? Formalitas?
Ah tentu tidak, sekolah adalah cara untuk mengenyam pendidikan. Eh, tapi...
Ah tentu tidak, sekolah adalah cara untuk mengenyam pendidikan. Eh, tapi...
Tapi apa? Ku tanya, bagaimana jika suatu saat sekolah tak mengeluarkan ijazah sebagai tanda kelulusan atau tanda-tanda apa saja itu?
Kalau itu tak ada, bagaimana kita bisa mencari pekerjaan nantinya, bukankah ijazah adalah salah satu tanda bahwa kita sudah mengenyam pendidikan?
Kalau itu tak ada, bagaimana kita bisa mencari pekerjaan nantinya, bukankah ijazah adalah salah satu tanda bahwa kita sudah mengenyam pendidikan?
Subscribe to:
Posts (Atom)




