Saturday, January 31, 2015
Berbahagialah! #2
Friday, January 30, 2015
Di antara Jeda #1
Wednesday, November 5, 2014
Lebur melebur lebur
Melankolis. Saya dominan dengan tipe kepribadian yang itu. Untuk berbicara pada orang lain, menuangkan apapun yang saya pikirkan dan saya rasakan tentang mereka itu bukan pekerjaan yang mudah bagi saya. Sebelum mengatakan ini itu, saya selalu berpikir, 'apakah kalau saya bicara begitu akan menyakiti hatinya, apakah benar kalau mereka begini, mereka begitu, apa bukan saya yang salah, apa nanti mereka tak akan terluka oleh kata-kata saya.' Well, terlalu banyak berpikir itu kadang melelahkan, seringkali malah itikat kita untuk menyampaikan uraian perasaan jengkel dan kesal jadi tak tersampaikan. Begitulah saya, seringkali diam kalau kesal.
Monday, November 3, 2014
Black Side
Friday, October 17, 2014
Jika Aku Tak Punya Kepala
Wednesday, September 17, 2014
Kebencian
Friday, September 5, 2014
Tadi pagi saya dapat mimpi aneh, entah mimpi itu refleksi dari apa. Saya mimpi dijodohkan dengan seorang laki-laki (saya juga tidak tau dia siapa). Dan setelah pertemuan saya tak mau dijodohkan dengan lelaki tsb, you know why? Karena saat shalat dia berhenti di tengah-tengah lantas tertawa (di mimpi pun saya sadar, itu cuma alasan saya, dari awal saya udah nggak suka). Pffft ini mimpi macam apa juga saya tak paham. Akhir-akhir ini mimpi saya geje, tak seperti dulu yang seringnya petualangan, sekarang temanya seputar begini-begini. Aih
Terserah yang kasih mimpi deh ya..
じゃまたね。
Thursday, September 4, 2014
Wednesday, August 27, 2014
untied
Lalu padaMulah, aku ingin mengaduh, meminta dan memohon. Aku kehilangan kata, tak tau harus berucap apa, terpenjara oleh kebingunganku sendiri. Aku harus bagaimana? Apa yang harus ku harapkan? Apa yang harus ku katakan? Ketika ketidaktahuanku, keputusasaanku dan segala kelemahanku menumpuk menjadi satu, dan keraguanku mengeruhkan segalanya.
Ah
Bagaimana aku harus berdoa, Tuhan?
Friday, April 25, 2014
Biru
Malam ini mendung
Malam ini biru
Dengan napas tertahan
Dengan suara teredam
Hanyut aku dalam lautan biruku
Adaku
Hadirku
Aku takut
Takut akan kobaran yang kusulut sendiri
Betapa aku takut akan apiku sendiri
Yang kukira sudah padam
Tapi ternyata masih membara dalam sekam
Betapa takut kulukai hati dengan lidahku
Betapa aku takut
Betapa aku muak
Betapa aku muak
Muak akan amarah
Muak akan emosi
Muak akan segala yang membakar kesabaranku
Kesabaran yang selalu ku bangun
Lantas hancur
Ya Rabbana, mengapa Engkau ciptakan aku dengan tempramen setinggi ini? mengapa Engkau ciptakan aku dengan seidealis ini?
Ya Rabb, apakah ini agar aku terua bersabar dalam segala kondisi? Bukankah Engkau bersama orang-orang sabar?
Lalu, bagaimana denganku? Apakah Engkau (masih) bersamaku?
Sungguh, aku takut. Kemana lagi aku harus lari jika Engkau tak lagi bersamaku?
...
di ujung hari,
selalu ku rutuki diriku sendiri.
dan aku benci.
Monday, March 17, 2014
Tinggi
"Iya, coba deh liat mereka sendiri gimana, gitu mau jadi atasan," temanku menimpali.
Lalu keributan menarik sahabatku ke tempat lainnya. Aku diam saja di tempat ini, masih malas berbuat sesuatu. Bosan.
Aku pandangi penjuru ruangan. Kacau balau. Berantakan. Tak betah aku di dalam, ke luar aku duduk di seberang pintu yang membuka terang ruangan.
Lalu satu persatu temanku datang. Huru hara mereka katakan apa yang ingin mereka katakan, aku diam saja, mengamini dalam hati. Begitu yang sekilas aku lihat, begitu yang sekilas aku rasakan. Aku tetap diam sementara mereka katakan macam-macam. Puas membuang sampah, mereka berlalu. Sementara aku tetap duduk di tempatku, "ah aku mau jadi biasa-biasa sajalah." "Kita nggak boleh merasa tinggi, harus merasa rendah terus. Jangan selalu merasa bisa sementara merendahkan orang lain," kata teman di sampingku.
Tepat sasaran. Mati aku. Ya, aku merasa tinggi beberapa hari ini. Merasa aku bisa sementara orang lain terus berada di posisi yang salah. Ah, siapalah aku.
Friday, March 14, 2014
Surat ketiga
Selamat malam, hai apa kabar kau.
Semoga kau selalu dalam keadaan sehat dan bahagia.
Aku sedang merindukanmu.
Akhir-akhir ini aku memikirkanmu, dalam suntuk luar biasa jika ada kau mungkin aku bisa berbagi apa yang benar-benar ingin ku bagi. Kadangkala menggunakan topeng segala rupa untuk menutup kelelahan, kekesalan dan rasa gerah itu tak menyenangkan. Ada kalanya ingin sekali menceritakan apa yang benar-benar dirasakan pada orang yang ingin mendengarkan. Karena aku tak bisa bilang 'hah aku capek' kali ini, berbeda kondisi.
Kau bisa ku temui dimana? Dalam sujud-sujud kosong malam harikah? Saat hanya berdua aku dan Dia? atau dalam kesadaran terendahku di malam hari?
Beberapa hari yang lalu seorang teman bertanya padaku, "emang kamu cari yang gimana?" Aku diam, diam saja, memikirkan jawaban yang aku tau pasti.
Tadi sore aku melewatkan dua waktu shalat akibat ketiduran. Ternyata aku benar-benar manusia, tak bisa menahan puncak lelah di bahuku. Rencana mencari makan, mandi dan briefing asisten lewat begitu saja. Pukul lima sore sampai pukul delapan malam yang benar-benar berkualitas. Mungkin jika tak ada dering telepon tadi, bablas aku sampai subuh besok. Kamis yang tanpa terlelap, jumat hanya tidur satu setengah jam.
Ah indah hidupku. Kesibukan itu menyenangkan. Dan melewatkan sebuah ritual dan jadwal akibat ketiduran itu jadi menyebalkan.
Aku ingin menyegarkan kembali kepalaku. Bisa kutemui dimana dirimu? Pada lembar sebelum lembar yang ditautkannya nama kita? Sampai uluran waktu yang mana?
Aku ingin naik gunung lagi, kapan kau mau menemaniku? Pantai masih nomor satu, tapi gunung membuatku jatuh hati.
Mungkin jika orang lain membaca suratku padamu kali ini, akan terlihat luar biasa kacau dan galau. Tapi aku tak peduli. Rindu bukan sesuatu yang memalukan, kan?
Sudahlah, aku ingin merebahkan badanku. Sampai bertemu dalam gerbang halus mimpi, meski tak jelas rona dan sosokmu.
Semoga kau selalu sehat dan bahagia. Meski tak selalu, setidaknya tersenyumlah saat tak dalam itu.
Sampai jumpa.
Wassalamu'alaikum
pecah
selamat dini hari. Setelah sekian lama tak berkata-kata disini, saya ingin bilang sesuatu. Saya habis memecahkan salah satu bagian tabung ekstraktor soxhlet. Mati. Mau nangis, lebay. Mau misuh, males. Mau teriak-teriak, nanti setan dateng. Haih. Ini udah empat malam nginep di lab, akhirnya mecahin sesuatu juga. Iya, nggak afdol kali ya kalo ngelab tapi nggak mecahin sesuatu. Ah mati ah..
Pfft mau tidur aja nggak bisa gegara masuk angin. Ah tauk lah. Itu harga ekstraktor berapa, besok pagi pasti dimarahin laboran, dimaki-maki kakak tingkat yang mau penelitian. Apakah ini hanya mimpi? T-T




