Pages

Subscribe:

Ads 468x60px

Thursday, February 26, 2015

seketika kehilangan kata-kata. bukan alasan-alasan yang selalu kupercaya, selalu kupaksa untuk kupercaya. satu alasan yang sudah ku tau, tapi ku abaikan selalu

I can't agree more :))

maafkan dan terima kasih akan berdampingan selalu. untuk orang2 yang pernah dekat, sedang dekat dan akan selalu dekat. Selamat malam :)
Ya, terima kasih untuk cerita-cerita yang berbeda, pada setiap insan yang hadir dalam setiap lembar buku ini. Terima kasih juga untuk setiap hikmah yang bisa diserap dari cerita itu. Dan juga maafkanlah, maafkan atas cemaran yang kusebarkan, maafkan atas polusi yang ku berikan, maafkan untuk kerusakan-kerusakan yang kulakukan dalam lembar buku-bukumu, Semua. 

Friday, February 20, 2015

menakutkanku

detak itu menakutkanku
akan kehilangan yang semu
detak itu menamparku
yang selalu melempar tanda seru
aku bukanlah kamu
aku adalah aku
selalu menakutkan bagiku

Seakan menelan wajahku sendiri, seakan menggigit lidahku sendiri. Aku takut akan keberadaanku sendiri, memaksaku memecahkan batu yang ku tumpuk menjadi pijakan untuk berdiri. Cermin yang selalu berada di setiap langkah, yang kuletakkan supaya selalu mengingatkan siapa aku, ku injak berantakan, pecah!
Aku. Ketakutan menghadapi apa yang ada di pikiranku, menjelma menjadi batu sandunganku sendiri. Menjatuhkanku telak sampai ke sana, ke jurang kemurungan.

berjelaga dalam dada
ditutupi tapi keluar asapnya
menghitam kelam
menakutkan

Apalah, jika A disini B disana. Lantas apa yang benar? A? B? atau C?
aku terlalu menakutkan untuk diriku sendiri

Friday, February 6, 2015

blurry but obvious

So I've been rejected twice in this early year. Alright, the show must go on. But it feel too painful, regret all the things I left behind. Everything I should did back then, ah :(
I know it's my fault, chose an option with lack of thought. Too late realize it now. Regret is regret, nothing to do and waste most of precious time for it. All I have to do right now is, chasing it, REALLY CHASING IT! I WON'T STAND HERE FOR LONG. I WANT GET IT TRUE, MAKE IT TRUE! LET'S GO, LIV!!

Thursday, February 5, 2015

Mimpi #3 #unofficial



Aku tak tau pasti jam berapa kau hadir kala itu. Tersembunyi dalam selubung kepala, kau menampakkan wajah dan seringai padaku. Semalam, kau datang dalam mimpiku. Hanyut lagi aku dalam rindu

Hanya beberapa ayat yang ku hapal semalam, peningkatan dua ayat yang terlebih dahulu adikku hapal. Sementara aku butuh hitungan hari untuk menghapalnya, adikku hanya membutuhkan hitungan menit untuk menghapal sempurna ejaan dan lafadznya. Aku memutuskan untuk menghapalkannya, surat ar rahman yang biasa menemani tidurku yang gelisah.

Jadi, haruskah aku hapalkan surat itu sampai tuntas setiap malam, agar kau hadir dalam mimpiku selalu?
Untuk beberapa detik yang ku tunggu sepanjang hariku. Jeda berbulan-bulan yang menjengkelkan. Beberapa detik itu muncul dalam mimpiku yang buram.

Pertanyaan-pertanyaan muncul dalam kepalaku, memaksaku menertawai diri sendiri..

Mungkin, jika tuntas ku hapalkan seluruh ayat-ayat itu, dengan ijin Sang Penguasa Hati, jika tak bisa ku temui kau di dunia fana ini, bisa ku temui kau di surga nanti.
Jangan tertawa. Aku memang gila. Rinduku sudah menenggelamkan kewarasanku!

Saturday, January 31, 2015

Berbahagialah! #2



Hari kedua.

Berbahagialah. 

Satu kata yang sering diucapkan tanpa hati mengikutinya. Terlalu sering hingga maknanya lupa teringat.

Satu kata yang terlalu sering kau ucapkan. Tapi lupa untuk kau usahakan.

“Berbahagialah. Kebahagiaan itu tak seperti engergi,” katamu waktu itu. “Energi tak bisa diciptakan dan dimusnahkan tapi hanya bisa diubah bentuknya. Tapi tak begitu dengan kebahagiaan.” Aku diam saja tak menanggapimu, kekesalanku masih tetap berdiri dengan angkuhnya. Lalu kau tersenyum, memamerkan gigi-gigimu padaku.

“Kenapa harus menyimpan kekesalan saat kita bisa tersenyum bahagia, kenapa harus menyeduh benci jika sanggup mencelupkan bahagia dalam hidup sesama,” katamu lagi. Ah gagal aku mempertahankan amarahku. Itu kata-kataku, kau sadur untukku sendiri. Aku terima kopi yang kau berikan padaku.
Lalu waktu selebihnya serasa milikku.

Kata-kata keluar setelahnya, membiarkanku mencurahkan apa saja dalam tempurung yang sudah kaku. Kau hanya mendengar tanpa menyela, sekalipun kau tak pernah menyela dan mencela pembicaraanku. Aku asyik bercerita ke sana kemari, membiarkan segalanya keluar tanpa peduli bagaimana pikirku. Dan tentu saja kau setia di situ, tersenyum melihat dan mendengarku kembali seperti biasa. 

Begitulah dirimu, membiarkanku menjadi diriku sendiri, berbahagia katamu.

Ya, begitulah dirimu, selalu menjadi dirimu, tertawa dan tersenyum selalu. Dan ceritaku selalu membuat kita menghabiskan waktu yang lama untuk sekedar mencicipi secangkir kopi yang berbeda. 

Hai, selamat sore. 
Aku tak berniat mengingatkanmu, aku hanya ingin mengingatkan diriku sendiri. Aku pernah sebahagia itu.
Dan tentu saja, untukmu, berbahagialah.

Friday, January 30, 2015

Di antara Jeda #1



Hari pertama. 

Bacalah, bacalah di antara sibukmu yang membabi buta, merayapi setiap bulir waktu yang menetes deras sepanjang harimu. Bacalah sekalimat-sekalimat, tak apa. Karna aku ingin menjumpaimu dalam tatap mata, yang bisa ku tembus dalam rangkai kata, ku.

Ini hari pertamaku menyapamu, setelah jeda panjang yang ku tautkan antar ini dan itu. Setelah banyak alasan yang ku karang untuk memisahkan kita, ya, kita. Ini juga hari pertamaku memaksa keangkuhanku untuk menyapamu terlebih dahulu. 

Di antara selipan huruf-huruf yang ku ketik dalam spasi detik, terbersit kata itu, kata sakral yang jarang ku ucapkan padamu. 

RINDU

Ya, egoku mencegah lidah dan jemariku untuk merangkai lima huruf itu terkirim padamu. Aku sadar, aku merasakan itu. Tapi dengan nya hebatku cela diriku sendiri untuk mengakui itu. aku hanya akan menuliskan kata itu sekali dalam jalinan rangkai koma ini. sekali saja, sama seperti senyummu yang sekali saja muncul dalam mimpiku. 

Selebihnya hanya raut wajahmu yang mengabaikanku.

Lagi lagi tak apa. Munculnya namamu dalam bunga tidurku sudah mampu membuatku merubah hari selama seminggu. Apalagi menjumpaimu dalam dunia nyata, gila mungkin aku.

Jadi, aku tak ingin menjumpaimu. Biarlah kata-kataku yang terbang menatap sosokmu. Hinggap di dahan pikiranmu. Ah, setidaknya begitu impianku. 

Jadi, beginilah akhirnya. 

Apa yang aku inginkan bukanlah menemuimu, atau bercakap denganmu. Aku hanya ingin menyapamu. Dan, mungkin… 

Jatuh cinta lagi padamu. 

Selamat pagi. Ini surat pertamaku. Balasannya, kirimlah senyummu dalam mimpiku nanti malam.

Wednesday, November 5, 2014

Lebur melebur lebur

Mungkin memang ada benarnya, tipe orang mempengaruhi bagaimana dia bertindak kepada orang lain. Saya selalu berpikir, apakah kata2 saya akan menyakiti orang lain atau tak. 

Melankolis. Saya dominan dengan tipe kepribadian yang itu. Untuk berbicara pada orang lain, menuangkan apapun yang saya pikirkan dan saya rasakan tentang mereka itu bukan pekerjaan yang mudah bagi saya. Sebelum mengatakan ini itu, saya selalu berpikir, 'apakah kalau saya bicara begitu akan menyakiti hatinya, apakah benar kalau mereka begini, mereka begitu, apa bukan saya yang salah, apa nanti mereka tak akan terluka oleh kata-kata saya.' Well, terlalu banyak berpikir itu kadang melelahkan, seringkali malah itikat kita untuk menyampaikan uraian perasaan jengkel dan kesal jadi tak tersampaikan. Begitulah saya, seringkali diam kalau kesal. 

Monday, November 3, 2014

Black Side

Sisi hitammu menakjubkan. Ia lebih besar dari sisi putihmu, lebih hebat, lebih kuat dari apapun yang membuatmu terang. Lihatlah, dia sering menggeliat dalam ketakutan akan ketakmampuan dirimu sendiri, dia bertumbuh menjadi kecemburuan pada apa yang tak bisa kau usahakan. Dengarlah, dia membisikimu apa yang harusnya kau acuhkan. Dia hebat, menjelma menjadi rasa iri berlebihan, perasaan ingin menguasai dan pandangan merendahkan. Kau punya semua sisi hitam itu, yang berdiri tegap di ujung ruang kepalamu, selalu siap berperang dengan kewaspadaanmu.

Friday, October 17, 2014

Jika Aku Tak Punya Kepala



10月4日Ku tuliskan “jika aku tak punya kepala” pada notes handphoneku. Aku lupa ingin menulis apa. Begitulah, ternyata aku seorang manusia, yang bisanya lupa. Dan kadang sungguh tak bisa melupa. 

Tapi, jika aku tak punya kepala, apa jadinya? Jika tiap manusia tak punya kepala, bagaimana jadinya?

Karena pada kepala, tempat tertinggi pada manusia, keangkuhan dan kesombongan bermula. Dari kepala, pandangan merendahkan itu berasal, dari kepala suara sumbang diabaikan, dari kepala pula, lidah mudah merajut luka.

Wednesday, September 17, 2014

Kebencian



“Aku tak mau jadi seperti huruf c dalam ejaan Inggris. Dia menjadi k dalam hadapan a, o dan u, lantas menjadi s di hadapan e dan i. Tak pernah jadi diri sendiri.”
“Aku mau jadi c.”
“He?”
“Menurutku justru c serba bisa, bukankah dia bisa dibeberapa kondisi dan mudah beradaptasi?”

Friday, September 5, 2014

おはようございます、みんな (^_^)y

Tadi pagi saya dapat mimpi aneh, entah mimpi itu refleksi dari apa. Saya mimpi dijodohkan dengan seorang laki-laki (saya juga tidak tau dia siapa). Dan setelah pertemuan saya tak mau dijodohkan dengan lelaki tsb, you know why? Karena saat shalat dia berhenti di tengah-tengah lantas tertawa (di mimpi pun saya sadar,  itu cuma alasan saya,  dari awal saya udah nggak suka). Pffft ini mimpi macam apa juga saya tak paham. Akhir-akhir ini mimpi saya geje, tak seperti dulu yang seringnya petualangan, sekarang temanya seputar begini-begini. Aih
Terserah yang kasih mimpi deh ya.. 

じゃまたね。 

Thursday, September 4, 2014

Oh
Begitu aturan mainmu

Aku ikuti aturan mainmu
Mari kita bermain dengan cerdik. Selamat berjumpa dengan trik-trik.

Wednesday, August 27, 2014

untied

Memandang kosong dalam ruang yang juga kosong, diisi oleh satu napas irama sama. Aku merasakan sesuatu yang biasa datang saat aku tak berbuat sesuatu. Kata yang sering ku sebut-sebut.

Lalu padaMulah, aku ingin mengaduh, meminta dan memohon. Aku kehilangan kata, tak tau harus berucap apa, terpenjara oleh kebingunganku sendiri. Aku harus bagaimana? Apa yang harus ku harapkan? Apa yang harus ku katakan? Ketika ketidaktahuanku, keputusasaanku dan segala kelemahanku menumpuk menjadi satu, dan keraguanku mengeruhkan segalanya.
Ah


Bagaimana aku harus berdoa, Tuhan?