Di antara jeda kata yang tak saling mengenal,
dibutuhkan hanya kesabaran, mimpi dan harapan
Sementara kepompong bersiap mengepakkan sayapnya
Ku harap retention time ku ini adalah waktu tunggu kepompong untuk menjadi kupu-kupu. Meski aku tak tau apakah daun-daun yang telah kulahap kemarin sudah cukup menjadikanku kupu-kupu bersayap indah, aku masih memiliki harapan, kepompongku berhasil bermetamorfosis.
Saturday, June 20, 2015
Tuesday, April 21, 2015
lagi gila nih eiyke
Saya adalah orang yang logis. Selalu berkaca pada realitas dan melakukan sesuatu berdasarkan perhitungan-perhitungan (meski kadang saya benci akan pola pikir saya sendiri yang sering melakukan perhitungan akan langkah-langkah yang saya buat, meski begitu saya juga melakukan kesalahan karena kehilangan satu langkah penting dalam hidup saya, satu hal yang saya abaikan, nyaris saya abaikan total). Dan satu hal lagi, saya juga percaya pada probabilitas. Teori kemungkinan-kemungkinan yang hanya jadi pengandaian di kepala tapi saya memiliki jurus ampuh untuk menenangkan logika, realitas dan perhitungan saya, satu kalimat pelumpuh : HEY ADA YANG MAHA MENDENGAR, MELIHAT DAN MAHA SEGALANYA!
Begitulah, kadang perhitungan, realitas dan logika saya berbenturan terhadap Tangan Tuhan. Dan di sanalah saya percaya terhadap usaha dan masa depan, berusaha lebih percaya. Percaya pada diri sendiri, krisis yang tak pernah berhenti pada diri saya sendiri. YAH, SELAMAT UJIAN MINGGU DEPAN!
Menurut saya, Ibarat hidup, minggu depan itu sakaratul mautnya, mau sebaik apapun sepanjang hidup kita, kalau pas episode terakhir hancur jadi bejat, ya sama aja kan? iya begitulah, sama aja kalau pas kuliah keren tapi pas sidang sebaliknya. ah gitulah, semangat!
Begitulah, kadang perhitungan, realitas dan logika saya berbenturan terhadap Tangan Tuhan. Dan di sanalah saya percaya terhadap usaha dan masa depan, berusaha lebih percaya. Percaya pada diri sendiri, krisis yang tak pernah berhenti pada diri saya sendiri. YAH, SELAMAT UJIAN MINGGU DEPAN!
Menurut saya, Ibarat hidup, minggu depan itu sakaratul mautnya, mau sebaik apapun sepanjang hidup kita, kalau pas episode terakhir hancur jadi bejat, ya sama aja kan? iya begitulah, sama aja kalau pas kuliah keren tapi pas sidang sebaliknya. ah gitulah, semangat!
Labels:
random
SESAL APA LAGI?
"Ada berapa hal yang kau selali di masa lalu?" tanyamu.
"Banyak!" jawabku tanpa pikir panjang, terlalu banyak yang aku sesali, hingga semuanya mengabur membuatku malu sendiri.
"Kenapa banyak? Hal-hal burukkah? Hal-hal baikkah?" tanyamu lagi, selalu ingin tau.
"Beberapa hal baik, sisanya hal-hal yang di mataku saat ini memalukan. Mengapa aku lakukan, mengapa aku begitu tak tau malu, mengapa aku dahulu tak berpikir panjang," kataku memulai ceritaku.
Kau diam saja kali ini. Memandangku, tersenyum. Seakan kalimat itu terlepas dari lidahmu, "tak apa, itu hanya masa lalu." Tapi yang ku pandang, kau hanya membeku, menggigil dan kaku, meski senyum kau sunggingkan di bibirmu.
Ada banyak yang ingin ku ceritakan, ada banyak hal yang ingin ku bagikan, tapi kau berhenti di tanda tanya itu. Kemudian aku tersenyum, menahan keinginanku untuk berkata ini itu.
"Ya, benar, itu hanya masa lalu, kata orang, masa depan selalu masih suci."
"Banyak!" jawabku tanpa pikir panjang, terlalu banyak yang aku sesali, hingga semuanya mengabur membuatku malu sendiri.
"Kenapa banyak? Hal-hal burukkah? Hal-hal baikkah?" tanyamu lagi, selalu ingin tau.
"Beberapa hal baik, sisanya hal-hal yang di mataku saat ini memalukan. Mengapa aku lakukan, mengapa aku begitu tak tau malu, mengapa aku dahulu tak berpikir panjang," kataku memulai ceritaku.
Kau diam saja kali ini. Memandangku, tersenyum. Seakan kalimat itu terlepas dari lidahmu, "tak apa, itu hanya masa lalu." Tapi yang ku pandang, kau hanya membeku, menggigil dan kaku, meski senyum kau sunggingkan di bibirmu.
Ada banyak yang ingin ku ceritakan, ada banyak hal yang ingin ku bagikan, tapi kau berhenti di tanda tanya itu. Kemudian aku tersenyum, menahan keinginanku untuk berkata ini itu.
"Ya, benar, itu hanya masa lalu, kata orang, masa depan selalu masih suci."
Labels:
Flash fiction
Thursday, March 5, 2015
Penjajah Tak Kasat Mata
“Mahkamah, lebih baik
Indonesia tenggelam di dasar lautan daripada menjadi ember-ember bangsa lain”
– begitulah ucapan Bung Hatta saat berumur 25 tahun pada saat diadili di
Belanda setelah dipenjara. (Mata Najwa, 12 November 2014)
Jika saya tumbuh dan berkembang pada saat jaman
kolonialisme, pada saat Indonesia sedang dijajah hebat-hebatnya secara kasat
mata, apa yang akan saya lakukan? Saya tak bisa membayangkan apapun.
Hebatnya, syukurnya, saya hidup di jaman edan. Di jaman
Bangsa ini dijajah tak kasat mata oleh kebudayaan bangsa lain. Kebudayaan
bangsa lain begitu mudahnya meracuni pikiran setiap generasi, melumpuhkan
ingatan akan kebudayaan nadi sendiri, membutakan pengetahuan akan budaya darah
sendiri. Begitu mudah kita jump into
Korean Culture, Japanese Culture dan tentu saja Western Culture. Sementara jika ditanya soal wayang, tari daerah,
lagu daerah dan kebudayaan serta adat istiadat lainnya kita serasa buta aksara,
dan disisi lain begitu mencandu budaya asing tersebut, bukankah perhatian kita
sedang dijajah?
Lama kelamaan, jika terus menerus kita acuh pada budaya
sendiri, bukankah melupakan itu mungkin?
Saya sadar. Dan saya juga merasa terjajah. Kebudayaan korea
dan jepang memang memesona saya, promosi mereka akan bangsanya memang luar
biasa. Mereka mengemas kebudayaan jadi tak kentara, ada dalam drama dan film
yang mereka produksi. Dan Saya hanya bisa mencandu.
Mungkin perlahan-lahan saya harus membaca lagi tentang
budaya bangsa ini, membakar api semangatnya lagi dalam ingatan saya. Indonesia
kaya, sebenarnya buat apa kita melirik rumput tetangga?
12-11-2014
Labels:
think
Thursday, February 26, 2015
Ya, terima kasih untuk cerita-cerita yang berbeda, pada setiap insan yang hadir dalam setiap lembar buku ini. Terima kasih juga untuk setiap hikmah yang bisa diserap dari cerita itu. Dan juga maafkanlah, maafkan atas cemaran yang kusebarkan, maafkan atas polusi yang ku berikan, maafkan untuk kerusakan-kerusakan yang kulakukan dalam lembar buku-bukumu, Semua.seketika kehilangan kata-kata. bukan alasan-alasan yang selalu kupercaya, selalu kupaksa untuk kupercaya. satu alasan yang sudah ku tau, tapi ku abaikan selalu
I can't agree more :))
maafkan dan terima kasih akan berdampingan selalu. untuk orang2 yang pernah dekat, sedang dekat dan akan selalu dekat. Selamat malam :)
Labels:
refleksi
Friday, February 20, 2015
menakutkanku
detak itu menakutkanku
akan kehilangan yang semu
detak itu menamparku
yang selalu melempar tanda seru
aku bukanlah kamu
aku adalah aku
selalu menakutkan bagiku
Seakan menelan wajahku sendiri, seakan menggigit lidahku sendiri. Aku takut akan keberadaanku sendiri, memaksaku memecahkan batu yang ku tumpuk menjadi pijakan untuk berdiri. Cermin yang selalu berada di setiap langkah, yang kuletakkan supaya selalu mengingatkan siapa aku, ku injak berantakan, pecah!
Aku. Ketakutan menghadapi apa yang ada di pikiranku, menjelma menjadi batu sandunganku sendiri. Menjatuhkanku telak sampai ke sana, ke jurang kemurungan.
berjelaga dalam dada
ditutupi tapi keluar asapnya
menghitam kelam
menakutkan
Apalah, jika A disini B disana. Lantas apa yang benar? A? B? atau C?
aku terlalu menakutkan untuk diriku sendiri
akan kehilangan yang semu
detak itu menamparku
yang selalu melempar tanda seru
aku bukanlah kamu
aku adalah aku
selalu menakutkan bagiku
Seakan menelan wajahku sendiri, seakan menggigit lidahku sendiri. Aku takut akan keberadaanku sendiri, memaksaku memecahkan batu yang ku tumpuk menjadi pijakan untuk berdiri. Cermin yang selalu berada di setiap langkah, yang kuletakkan supaya selalu mengingatkan siapa aku, ku injak berantakan, pecah!
Aku. Ketakutan menghadapi apa yang ada di pikiranku, menjelma menjadi batu sandunganku sendiri. Menjatuhkanku telak sampai ke sana, ke jurang kemurungan.
berjelaga dalam dada
ditutupi tapi keluar asapnya
menghitam kelam
menakutkan
Apalah, jika A disini B disana. Lantas apa yang benar? A? B? atau C?
aku terlalu menakutkan untuk diriku sendiri
Friday, February 6, 2015
blurry but obvious
So I've been rejected twice in this early year. Alright, the show must go on. But it feel too painful, regret all the things I left behind. Everything I should did back then, ah :(
I know it's my fault, chose an option with lack of thought. Too late realize it now. Regret is regret, nothing to do and waste most of precious time for it. All I have to do right now is, chasing it, REALLY CHASING IT! I WON'T STAND HERE FOR LONG. I WANT GET IT TRUE, MAKE IT TRUE! LET'S GO, LIV!!
I know it's my fault, chose an option with lack of thought. Too late realize it now. Regret is regret, nothing to do and waste most of precious time for it. All I have to do right now is, chasing it, REALLY CHASING IT! I WON'T STAND HERE FOR LONG. I WANT GET IT TRUE, MAKE IT TRUE! LET'S GO, LIV!!
Thursday, February 5, 2015
Mimpi #3 #unofficial
Aku tak tau pasti jam berapa kau hadir kala itu. Tersembunyi
dalam selubung kepala, kau menampakkan wajah dan seringai padaku. Semalam, kau
datang dalam mimpiku. Hanyut lagi aku dalam rindu
Hanya beberapa ayat yang ku hapal semalam, peningkatan dua
ayat yang terlebih dahulu adikku hapal. Sementara aku butuh hitungan hari untuk
menghapalnya, adikku hanya membutuhkan hitungan menit untuk menghapal sempurna
ejaan dan lafadznya. Aku memutuskan untuk menghapalkannya, surat ar rahman yang
biasa menemani tidurku yang gelisah.
Jadi, haruskah aku hapalkan surat itu sampai tuntas setiap
malam, agar kau hadir dalam mimpiku selalu?
Untuk beberapa detik yang ku tunggu sepanjang hariku. Jeda
berbulan-bulan yang menjengkelkan. Beberapa detik itu muncul dalam mimpiku yang
buram.
Pertanyaan-pertanyaan muncul dalam kepalaku, memaksaku
menertawai diri sendiri..
Mungkin, jika tuntas ku hapalkan seluruh ayat-ayat itu,
dengan ijin Sang Penguasa Hati, jika tak bisa ku temui kau di dunia fana ini,
bisa ku temui kau di surga nanti.
Jangan tertawa. Aku memang gila. Rinduku sudah
menenggelamkan kewarasanku!
Labels:
#30HariMenulisSuratCinta
Saturday, January 31, 2015
Berbahagialah! #2
Hari kedua.
Berbahagialah.
Satu kata yang sering diucapkan tanpa hati mengikutinya. Terlalu
sering hingga maknanya lupa teringat.
Satu kata yang terlalu sering kau ucapkan. Tapi lupa untuk
kau usahakan.
“Berbahagialah. Kebahagiaan itu tak seperti engergi,” katamu
waktu itu. “Energi tak bisa diciptakan dan dimusnahkan tapi hanya bisa diubah
bentuknya. Tapi tak begitu dengan kebahagiaan.” Aku diam saja tak menanggapimu,
kekesalanku masih tetap berdiri dengan angkuhnya. Lalu kau tersenyum,
memamerkan gigi-gigimu padaku.
“Kenapa harus menyimpan kekesalan saat kita bisa tersenyum
bahagia, kenapa harus menyeduh benci jika sanggup mencelupkan bahagia dalam
hidup sesama,” katamu lagi. Ah gagal aku mempertahankan amarahku. Itu kata-kataku,
kau sadur untukku sendiri. Aku terima kopi yang kau berikan padaku.
Lalu waktu selebihnya serasa milikku.
Kata-kata keluar setelahnya, membiarkanku mencurahkan apa
saja dalam tempurung yang sudah kaku. Kau hanya mendengar tanpa menyela,
sekalipun kau tak pernah menyela dan mencela pembicaraanku. Aku asyik bercerita
ke sana kemari, membiarkan segalanya keluar tanpa peduli bagaimana pikirku. Dan
tentu saja kau setia di situ, tersenyum melihat dan mendengarku kembali seperti
biasa.
Begitulah dirimu, membiarkanku menjadi diriku sendiri,
berbahagia katamu.
Ya, begitulah dirimu, selalu menjadi dirimu, tertawa dan
tersenyum selalu. Dan ceritaku selalu membuat kita menghabiskan waktu yang lama
untuk sekedar mencicipi secangkir kopi yang berbeda.
Hai, selamat sore.
Aku tak berniat mengingatkanmu, aku hanya
ingin mengingatkan diriku sendiri. Aku pernah sebahagia itu.
Dan tentu saja, untukmu, berbahagialah.
Labels:
#30HariMenulisSuratCinta
Friday, January 30, 2015
Di antara Jeda #1
Hari pertama.
Bacalah, bacalah di antara sibukmu yang membabi buta,
merayapi setiap bulir waktu yang menetes deras sepanjang harimu. Bacalah
sekalimat-sekalimat, tak apa. Karna aku ingin menjumpaimu dalam tatap mata,
yang bisa ku tembus dalam rangkai kata, ku.
Ini hari pertamaku menyapamu, setelah jeda panjang yang ku
tautkan antar ini dan itu. Setelah banyak alasan yang ku karang untuk
memisahkan kita, ya, kita. Ini juga hari pertamaku memaksa keangkuhanku untuk
menyapamu terlebih dahulu.
Di antara selipan huruf-huruf yang ku ketik dalam spasi
detik, terbersit kata itu, kata sakral yang jarang ku ucapkan padamu.
RINDU
Ya, egoku mencegah lidah dan jemariku untuk merangkai lima
huruf itu terkirim padamu. Aku sadar, aku merasakan itu. Tapi dengan nya hebatku
cela diriku sendiri untuk mengakui itu. aku hanya akan menuliskan kata itu
sekali dalam jalinan rangkai koma ini. sekali saja, sama seperti senyummu yang
sekali saja muncul dalam mimpiku.
Selebihnya hanya raut wajahmu yang mengabaikanku.
Lagi lagi tak apa. Munculnya namamu dalam bunga tidurku
sudah mampu membuatku merubah hari selama seminggu. Apalagi menjumpaimu dalam
dunia nyata, gila mungkin aku.
Jadi, aku tak ingin menjumpaimu. Biarlah kata-kataku yang
terbang menatap sosokmu. Hinggap di dahan pikiranmu. Ah, setidaknya begitu
impianku.
Jadi, beginilah akhirnya.
Apa yang aku inginkan bukanlah menemuimu, atau bercakap
denganmu. Aku hanya ingin menyapamu. Dan, mungkin…
Jatuh cinta lagi padamu.
Selamat pagi. Ini surat pertamaku. Balasannya, kirimlah
senyummu dalam mimpiku nanti malam.
Labels:
#30HariMenulisSuratCinta
Wednesday, November 5, 2014
Lebur melebur lebur
Mungkin memang ada benarnya, tipe orang mempengaruhi bagaimana dia bertindak kepada orang lain. Saya selalu berpikir, apakah kata2 saya akan menyakiti orang lain atau tak.
Melankolis. Saya dominan dengan tipe kepribadian yang itu. Untuk berbicara pada orang lain, menuangkan apapun yang saya pikirkan dan saya rasakan tentang mereka itu bukan pekerjaan yang mudah bagi saya. Sebelum mengatakan ini itu, saya selalu berpikir, 'apakah kalau saya bicara begitu akan menyakiti hatinya, apakah benar kalau mereka begini, mereka begitu, apa bukan saya yang salah, apa nanti mereka tak akan terluka oleh kata-kata saya.' Well, terlalu banyak berpikir itu kadang melelahkan, seringkali malah itikat kita untuk menyampaikan uraian perasaan jengkel dan kesal jadi tak tersampaikan. Begitulah saya, seringkali diam kalau kesal.
Melankolis. Saya dominan dengan tipe kepribadian yang itu. Untuk berbicara pada orang lain, menuangkan apapun yang saya pikirkan dan saya rasakan tentang mereka itu bukan pekerjaan yang mudah bagi saya. Sebelum mengatakan ini itu, saya selalu berpikir, 'apakah kalau saya bicara begitu akan menyakiti hatinya, apakah benar kalau mereka begini, mereka begitu, apa bukan saya yang salah, apa nanti mereka tak akan terluka oleh kata-kata saya.' Well, terlalu banyak berpikir itu kadang melelahkan, seringkali malah itikat kita untuk menyampaikan uraian perasaan jengkel dan kesal jadi tak tersampaikan. Begitulah saya, seringkali diam kalau kesal.
Labels:
sudut pandang,
thinking
Monday, November 3, 2014
Black Side
Sisi hitammu menakjubkan. Ia lebih besar dari sisi putihmu, lebih hebat, lebih kuat dari apapun yang membuatmu terang. Lihatlah, dia sering menggeliat dalam ketakutan akan ketakmampuan dirimu sendiri, dia bertumbuh menjadi kecemburuan pada apa yang tak bisa kau usahakan. Dengarlah, dia membisikimu apa yang harusnya kau acuhkan. Dia hebat, menjelma menjadi rasa iri berlebihan, perasaan ingin menguasai dan pandangan merendahkan. Kau punya semua sisi hitam itu, yang berdiri tegap di ujung ruang kepalamu, selalu siap berperang dengan kewaspadaanmu.
Labels:
curhat,
sudut pandang
Friday, October 17, 2014
Jika Aku Tak Punya Kepala
10月4日Ku tuliskan “jika
aku tak punya kepala” pada notes handphoneku. Aku lupa ingin menulis apa. Begitulah,
ternyata aku seorang manusia, yang bisanya lupa. Dan kadang sungguh tak bisa
melupa.
Tapi, jika aku tak punya kepala, apa jadinya? Jika tiap
manusia tak punya kepala, bagaimana jadinya?
Karena pada kepala, tempat tertinggi pada manusia, keangkuhan
dan kesombongan bermula. Dari kepala, pandangan merendahkan itu berasal, dari
kepala suara sumbang diabaikan, dari kepala pula, lidah mudah merajut luka.
Labels:
sudut pandang
Subscribe to:
Posts (Atom)




