Hujan
Tengah malam
Laksana rasa yang tak ingin diungkap
Bebas jatuh dalam lelap mata jiwa terjaga
Hujan
Tengah malam
Adalah rindu yang tak bisa dilepas
Pelangi yang tertahan sebatas rintik
Tanpa cahaya, rindu dan rasa bisa apa?
Hujan
Tengah malam
Showing posts with label sajak. Show all posts
Showing posts with label sajak. Show all posts
Tuesday, July 2, 2013
Pada rindu yang bernanah, tidakkah kau cium baunya? Sudah seperti bunga bangkai yang sekarat, rindu itu terus menjadi, gila! Tidakkah kau cium bau busuknya? Ku tebarkan disekitarmu, dengan kata-kata, semakin lama semakin membusuk. Busuknya mengalahkan telur busuk yang membusuk di kulitku. Tidakkah kau cium baunya? Bau busuk rindu untukmu.
Pada rasa yang melemah, membuncah, kalah! Tertawalah, kau pantas tertawa bungah!!
Labels:
sajak
Friday, June 7, 2013
kucari ingar dalam sendu matamu,
yang kutemukan adalah kosong bait tanpa rima
kucari peluru dalam rajam lidahmu,
yang kutemukan hanya merdu dalam lirikmu yang patah
ah siapalah hati yang kau rindu,
aku ingin tau nama yang terselip dalam doamu
agar musnah jalinan kode dari tempurungku
yang memerintah jantung berdetak lebih cepat
saat kujumpa matamu...
kelambu
yang kutemukan adalah kosong bait tanpa rima
kucari peluru dalam rajam lidahmu,
yang kutemukan hanya merdu dalam lirikmu yang patah
ah siapalah hati yang kau rindu,
aku ingin tau nama yang terselip dalam doamu
agar musnah jalinan kode dari tempurungku
yang memerintah jantung berdetak lebih cepat
saat kujumpa matamu...
kelambu
Monday, April 22, 2013
kau tak ku sebut bintang karna kau tak tiap saat ada,
tampak maupun tak tampak.
kau tak ku sebut bulan karna kau tak pernah berdusta,
bersinar atas cahayamu sendiri.
Ku sebut kau malam,
karna mengenalmu membuatku terjaga akan cahaya. Aku bukan pagi, apalagi siang. Aku tidak ada, seperti kataku biasa.
Kita berada dalam semesta yang berbeda, tapi mampu kuucap kau lewat kata.
Kau fatamorgana, aku angin. Kita segaris jika panas berawan. Aku dan kau diciptakan berbeda tak sama dalam semesta dua.
Aku kamu.
Ini adalah sajak terakhirku tentangmu, malam. Jika suatu kali kukata lagi malam, itu bukan tentangmu, itu tentang malam, yang dengannya tanpa pernah aku bosan.
Sajak patah dipangkal malam, kali ini ku sebut namamu dalam doa, tanpa aku sebagai objek, hanya kau dan predikatmu.
Selamat malam, malam.
Labels:
sajak
Thursday, March 21, 2013
aku?
Kau adakan aku di tengah ketiadaan. Lalu kau tiadakan aku di dalam keadaan. Sirna sudah semua daya. Aku hilang tanpa tenggelam, hanya kau yang bertahan.
Aku ingin bertemu, meski tiap malam ku bertamu.
Mengapa yang kau tampakkan hanya ilusi dari raguku?
Aku ingin berjumpa, meski tiap hari ku berdusta.
Mengapa yang kau tunjukkan yang tiada?
Aku Rindu, padamu. Ya. Padamu.
Akankah aku jadi kekasihmu?
Mengapa yang kau tampakkan hanya ilusi dari raguku?
Aku ingin berjumpa, meski tiap hari ku berdusta.
Mengapa yang kau tunjukkan yang tiada?
Aku Rindu, padamu. Ya. Padamu.
Akankah aku jadi kekasihmu?
Aku bertopeng rupa,
Aku berdusta,
Aku bersalin rasa,
Aku tanpa daya.
Aku. Siapa aku?
Mengapa kau adakan aku?
Mengapa kau tiupkan aku dalam raga manusia?
Siapakah aku?
Aku berdusta,
Aku bersalin rasa,
Aku tanpa daya.
Aku. Siapa aku?
Mengapa kau adakan aku?
Mengapa kau tiupkan aku dalam raga manusia?
Siapakah aku?
Aku?
Subscribe to:
Posts (Atom)




