Kali ini aku tak tau, kali ini aku tak kenal.
Siapa yang ada di kepalaku beberapa hari ini.
Siapa yang menempati ruang emosiku.
Sudah lama tak berjumpa.
Dengan harimau yang tidur panjang, jarang mengaum.
Kali ini aku tak tau, kali ini aku tak mengenal.
Diriku sendiri.
Sudah ku penuhi kebutuhan sampinganku. Pelarian yang selama ini aku andalkan. Sudah beberapa bab aku tuntaskan, menuju setengah buku. Belum rampung memang, tapi setidaknya aku sudah bersenang-senang melahap beribu kata. Tentang cerita lama, seribu tahun lebih. Di daerah padang tandus sana. Belum tuntas, karena memang tak ku niatkan untuk menuntaskan. Sudah ku bilang, ku hanya ingin bersenang-senang sebentar.
Monday, May 2, 2016
Pelarian
Tiga hal. Pelarian sederhanaku.
Menulis, membaca dan menonton.
Menulis, membaca dan menonton.
Sederhana. Bukan
naik gunung, bukan makan di kafe mana, bukan menonton di bioskop mana,
bukan jalan ke mall mana, bukan pula dengan jalan-jalan ke kota (kecuali Jember dan Malang) mana.
Sesederhana itu. Menulis, membaca, dan menonton.
Labels:
sumpek
Saturday, April 30, 2016
Ditulis, ku hapus lagi. Dituang, ku tumpahkan lagi
Ditulis, ku hapus lagi. Dituang, ku tumpahkan lagi.
Menulis sesuatu, mengkosongkan kolom-kolom pikiran. Mencipta barisan kalam untuk menayangkan perasaan. Berbait-bait, berbaris-baris. Ditulis, ku hapus lagi.
Ditulis, ku hapus lagi. Dituang, ku tumpahkan lagi.
Mengeja dengan jelas apa yang diinginkan. Mengulang-ulang apa yang diejakan. Tanpa beban, tanpa membayangkan apa akibatnya jika terus diulang. Mencoba mengisi ruang yang entah apa isinya. Setelah dituang, kembali dilakukan. Kebiasaan lama. Dituang, ku tumpahkan lagi.
Menulis sesuatu, mengkosongkan kolom-kolom pikiran. Mencipta barisan kalam untuk menayangkan perasaan. Berbait-bait, berbaris-baris. Ditulis, ku hapus lagi.
Ditulis, ku hapus lagi. Dituang, ku tumpahkan lagi.
Mengeja dengan jelas apa yang diinginkan. Mengulang-ulang apa yang diejakan. Tanpa beban, tanpa membayangkan apa akibatnya jika terus diulang. Mencoba mengisi ruang yang entah apa isinya. Setelah dituang, kembali dilakukan. Kebiasaan lama. Dituang, ku tumpahkan lagi.
Tuesday, April 19, 2016
Mungkin sudah mencapai threshold,
hingga aroma bisa diendus
Mungkin sudah mencapai threshold,
hingga rasa bisa dirasa
Mungkin sudah mencapai titik terjenuh
hingga tekanan uap hampir meledakan
Aku tau, aku belum mencapai batasku.
Tapi ijinkan aku mengeluh,
Aku sedang jenuh,
Sedang ingin memecahkan bola kaca
di dalam mataku sendiri
meski tak bisa. HAHAHAHA
hingga aroma bisa diendus
Mungkin sudah mencapai threshold,
hingga rasa bisa dirasa
Mungkin sudah mencapai titik terjenuh
hingga tekanan uap hampir meledakan
Aku tau, aku belum mencapai batasku.
Tapi ijinkan aku mengeluh,
Aku sedang jenuh,
Sedang ingin memecahkan bola kaca
di dalam mataku sendiri
meski tak bisa. HAHAHAHA
Saturday, April 9, 2016
Taste bud
"Setiap papila tidak hanya memiliki satu reseptor rasa, tapi bisa empat sampai lima reseptor."
Baiklah, aku gambar penampakan si papila secara umum. Papila berbentuk circumuallate. Bagian atas adalah papila, di dalamnya ada beberapa reseptor bernama taste bud yang 'batang'nya adalah syaraf. Jadi benar, teori wilayah rasa itu sudah jatuh. Setiap bagian di lidah kita bisa merasakan semua rasa dasar. Walau memang ada daerah-daerah tertentu yang lebih sensitif terhadap rasa tertentu.
Aku mengontrol handphone sesekali, checking apakah fungsi recorder masih berjalan. Aku tak ingin tertinggal satu kata pun.
Baiklah, aku gambar penampakan si papila secara umum. Papila berbentuk circumuallate. Bagian atas adalah papila, di dalamnya ada beberapa reseptor bernama taste bud yang 'batang'nya adalah syaraf. Jadi benar, teori wilayah rasa itu sudah jatuh. Setiap bagian di lidah kita bisa merasakan semua rasa dasar. Walau memang ada daerah-daerah tertentu yang lebih sensitif terhadap rasa tertentu.
Aku mengontrol handphone sesekali, checking apakah fungsi recorder masih berjalan. Aku tak ingin tertinggal satu kata pun.
Labels:
Flash fiction,
sudut pandang
Sunday, April 3, 2016
Pembela Hak Pangan (PHP)
Dari beberapa berita, yang disalah-salahin ya si gula, kalau
nggak gitu ya si lemak. Kasian. Sabar ya… Manusia emang gitu, padahal butuh
tapi sok-sokan nuding ngga jelas. Sabar ya.. mana si minyak dikata mengandung
lemak yang tinggi pula, lah kalau nggak mengandung lemak (asam lemak), minyak cuma
jadi gliserol dong. Ah, kalian ada-ada aja…. Kasian. Makanan selalu jadi
kambing hitam, yang salah situ, yang disalahin makanannya. Hmm.
Labels:
undefine
Tuesday, March 29, 2016
時間
Apakah itu waktu?
Ia hanya sebuah kata benda. Invisible. Sering melakukan pekerjaan, entah berlari, entah berjalan atau sekedar ingin dihentikan.
Apakah itu waktu?
Ia sering disandingkan dengan kata sifat, yang pendek, yang panjang, yang tepat (?)
Ia hanya sebuah kata benda. Invisible. Sering melakukan pekerjaan, entah berlari, entah berjalan atau sekedar ingin dihentikan.
Apakah itu waktu?
Ia sering disandingkan dengan kata sifat, yang pendek, yang panjang, yang tepat (?)
Labels:
curhat,
kicau kacau,
monolog,
sudut pandang
Thursday, March 17, 2016
A Thought and Task - Free Day. I need it, asap
"Aku tak mengenalmu!" bentakku kasar. Amarah sedang menguasaiku.
Bagaimana aku bisa tak mengenalmu seperti ini, ini sudah keterlaluan. Kau tidak seperti biasanya. Aku tak bisa lagi meramal kenapa dan apa.
"Ada apa? mengapa kau berubah begini?" tanyaku lagi, sedikit menahan nada-nada tinggi yang mungkin terlontar.
Kau diam saja bagaimana aku tau? aku sudah mencoba beberapa hal, tapi kau tetap bergeming. Kau biarkan panas itu bersarang dalam tubuhmu, sementara lidahmu tak suka mencecap yang pahit, dan kakimu tak suka melangkah menuju yang berbaju putih.
"Jadi aku harus bagaimana?" rasanya pertanyaan ini kuajukan untukku sendiri.
"Kau tau sendiri, aku tak bisa diam saja, aku tak bisa tak melakukan apa-apa sementara begitu banyak urusan yang harus ku selesaikan, atau sekedar ku cicil. Jika terus kau begini, aku bisa apa?" rasanya aku berbicara sendiri, dia tak merespon apa-apa.
Bagaimana aku bisa tak mengenalmu seperti ini, ini sudah keterlaluan. Kau tidak seperti biasanya. Aku tak bisa lagi meramal kenapa dan apa.
"Ada apa? mengapa kau berubah begini?" tanyaku lagi, sedikit menahan nada-nada tinggi yang mungkin terlontar.
Kau diam saja bagaimana aku tau? aku sudah mencoba beberapa hal, tapi kau tetap bergeming. Kau biarkan panas itu bersarang dalam tubuhmu, sementara lidahmu tak suka mencecap yang pahit, dan kakimu tak suka melangkah menuju yang berbaju putih.
"Jadi aku harus bagaimana?" rasanya pertanyaan ini kuajukan untukku sendiri.
"Kau tau sendiri, aku tak bisa diam saja, aku tak bisa tak melakukan apa-apa sementara begitu banyak urusan yang harus ku selesaikan, atau sekedar ku cicil. Jika terus kau begini, aku bisa apa?" rasanya aku berbicara sendiri, dia tak merespon apa-apa.
Thursday, March 10, 2016
10 maret
Selamat ulang tahun, lip! お誕生日おめでとう!
jika ada satu harapan yang aku inginkan untukmu adalah berbahagialah!
Buang segala perasaan yg tak perlu kau simpan, buka hatimu untuk orang orang yg mampu membuatmu bahagia. Hiduplah di masa kini, tak perlu terpaku pada masa lalu apalagi terlalu memuja masa depan.
Hiduplah dengan rasa syukur, rendah hati, ringan tangan dan murah senyum. Ah, sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain kan?
:)
Well, alhamdulillah, tidak seperti tahun tahun sebelumnya, I'm so happy today.
Didoakan teman sekelas, disamperin ke kos 'cuma' buat ngasih kue tart sama temen-temen sekelas, dikejutkan mbak bubu yang hujan-hujan belain buat ngasih si larva dan yang terakhir diberi surprise sama temen sekost hihi.ah, Tuhan sayang banget ya sama saya. Satu satunya hari yang saya spesialkan sepanjang tahun ya hari ini. my only special day. Selamat ulang tahun, oliv, ovi! Berbahagialah selalu, seperti ini..
jika ada satu harapan yang aku inginkan untukmu adalah berbahagialah!
Buang segala perasaan yg tak perlu kau simpan, buka hatimu untuk orang orang yg mampu membuatmu bahagia. Hiduplah di masa kini, tak perlu terpaku pada masa lalu apalagi terlalu memuja masa depan.
Hiduplah dengan rasa syukur, rendah hati, ringan tangan dan murah senyum. Ah, sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain kan?
:)
Well, alhamdulillah, tidak seperti tahun tahun sebelumnya, I'm so happy today.
Didoakan teman sekelas, disamperin ke kos 'cuma' buat ngasih kue tart sama temen-temen sekelas, dikejutkan mbak bubu yang hujan-hujan belain buat ngasih si larva dan yang terakhir diberi surprise sama temen sekost hihi.ah, Tuhan sayang banget ya sama saya. Satu satunya hari yang saya spesialkan sepanjang tahun ya hari ini. my only special day. Selamat ulang tahun, oliv, ovi! Berbahagialah selalu, seperti ini..
Labels:
curhat
Wednesday, March 2, 2016
lama tak bersua
Kita duduk berdampingan. Bahu kita berjarak sejengkal, wangi
parfummu masih sama seperti sebelumnya. Rambutmu yang biasa berantakan kini
terlihat rapi. Sudah berapa lama aku tak memperhatikanmu, aku tak tau. Sudah beberapa
kali kau mengajakku berdiskusi dan aku hanya menolak dengan alasan kesibukanku.
Kini, saat aku tak tau harus pergi ke mana, ku ketuk pintu
rumahmu yang selalu tak terkunci.
Setengah jam sudah kita berdiam diri di sini, di halaman
rumahmu yang kaku, hanya satu dua kaktus, sebatang mawar yang entah sekering
apapun tetap hidup, serumpun melati yang jarang kau siram namun tetap berbunga,
dan yang paling aneh adalah satu pot kosong yang kau isi dengan beberapa siung bawang
merah.
Labels:
monolog
Rasa, kata, makna
Jadi begini urutannya dalam satu sisi. Rasa, kata, makna. Jika ku tak miliki step yang pertama, jangan tanyakan step-step selanjutnya. Jikapun aku ada kata, itu hanyalah pengulangan-pengulangan. Yang entah bagaimana maknanya.
Sudah beberapa lama tak ku miliki sebuah rasa. Sebab itulah aku menjauh dari kata. Mungkin ku sengaja, atau juga tak.
Tentang rasa, aku bisa menyembunyikannya sebaik apapun di wajah orang lain. Tidak dengan kata. Jika kau bisa membaca, semua sudah kutuangkan rasanya tuntas di kolom kata. Tentu, aku sengaja agar kau tak memahami artinya.
Maknanya memang sengaja untukku sendiri. Bagaimana rasaku, kau tak perlu tau maknanya kan?
Jumat, 26 Februari 2016 11:37 PM
Sudah beberapa lama tak ku miliki sebuah rasa. Sebab itulah aku menjauh dari kata. Mungkin ku sengaja, atau juga tak.
Tentang rasa, aku bisa menyembunyikannya sebaik apapun di wajah orang lain. Tidak dengan kata. Jika kau bisa membaca, semua sudah kutuangkan rasanya tuntas di kolom kata. Tentu, aku sengaja agar kau tak memahami artinya.
Maknanya memang sengaja untukku sendiri. Bagaimana rasaku, kau tak perlu tau maknanya kan?
Jumat, 26 Februari 2016 11:37 PM
Wednesday, February 10, 2016
sebab-akibat yang dimusnahkan
Barangkali aku hanya ingin membaca
Dan mencoba merasakan
dari apa yang penulis ingin gambarkan
sesederhana itu sajaJika kaca mataku pecah
apakah itu artinya aku tak kan bisa melihat?
Tidak, tentu saja tidak
hanya saja, tidak akan sejelas biasanya
Jika sepatuku berlubang, solnya lepas
apakah itu tandanya aku tak kan bisa berjalan lagi?
Tidak, tentu saja tidak
hanya saja, jalanku tak kan semudah dan senyaman biasanya
Ya, hanya tidak seperti biasanya
Biasanya, sebagai akibat dari sebab yang diulang-ulang
Maka, sudah lama ku putuskan aku tak kan mengulang-ulang
Sebab-sebab yang akan menjadi biasanya
Sudah ku hentikan, hingga tidak ada lagi yang biasa
Akibat dari sebab ketiadaan
8 Februari 2016.
Labels:
twit
Sunday, February 7, 2016
Cita rasa dasar
Pukul dua belas tepat, ditandai dengan jingle radio yang menggaung saat pergantian jam. Siang yang panas,
ditemani oleh kipas angin yang sudah berpuluh menit berputar menghembus udara
yang diam, pengap. Musim penghujan sudah datang, tapi entah mengapa malah udara
panas yang betah singgah.
Sang Lelaki menyodorkan segelas jus jambu dingin pada
Wanitanya. Wanita yang sesaat lalu mematikan televisi di depannya itu lantas
tersenyum.
“Jalan-jalan, yuk?” tanya sang lelaki sambil meletakkan kaca
matanya di atas meja kayu di depannya.
“Hmm, enggak yuk?” jawab sang wanita, santai. Sang Lelaki
tertawa
“Kenapa?”
Labels:
Flash fiction
Subscribe to:
Posts (Atom)




