detak itu menakutkanku
akan kehilangan yang semu
detak itu menamparku
yang selalu melempar tanda seru
aku bukanlah kamu
aku adalah aku
selalu menakutkan bagiku
Seakan menelan wajahku sendiri, seakan menggigit lidahku sendiri. Aku takut akan keberadaanku sendiri, memaksaku memecahkan batu yang ku tumpuk menjadi pijakan untuk berdiri. Cermin yang selalu berada di setiap langkah, yang kuletakkan supaya selalu mengingatkan siapa aku, ku injak berantakan, pecah!
Aku. Ketakutan menghadapi apa yang ada di pikiranku, menjelma menjadi batu sandunganku sendiri. Menjatuhkanku telak sampai ke sana, ke jurang kemurungan.
berjelaga dalam dada
ditutupi tapi keluar asapnya
menghitam kelam
menakutkan
Apalah, jika A disini B disana. Lantas apa yang benar? A? B? atau C?
aku terlalu menakutkan untuk diriku sendiri
Showing posts with label thinking. Show all posts
Showing posts with label thinking. Show all posts
Friday, February 20, 2015
Wednesday, November 5, 2014
Lebur melebur lebur
Mungkin memang ada benarnya, tipe orang mempengaruhi bagaimana dia bertindak kepada orang lain. Saya selalu berpikir, apakah kata2 saya akan menyakiti orang lain atau tak.
Melankolis. Saya dominan dengan tipe kepribadian yang itu. Untuk berbicara pada orang lain, menuangkan apapun yang saya pikirkan dan saya rasakan tentang mereka itu bukan pekerjaan yang mudah bagi saya. Sebelum mengatakan ini itu, saya selalu berpikir, 'apakah kalau saya bicara begitu akan menyakiti hatinya, apakah benar kalau mereka begini, mereka begitu, apa bukan saya yang salah, apa nanti mereka tak akan terluka oleh kata-kata saya.' Well, terlalu banyak berpikir itu kadang melelahkan, seringkali malah itikat kita untuk menyampaikan uraian perasaan jengkel dan kesal jadi tak tersampaikan. Begitulah saya, seringkali diam kalau kesal.
Melankolis. Saya dominan dengan tipe kepribadian yang itu. Untuk berbicara pada orang lain, menuangkan apapun yang saya pikirkan dan saya rasakan tentang mereka itu bukan pekerjaan yang mudah bagi saya. Sebelum mengatakan ini itu, saya selalu berpikir, 'apakah kalau saya bicara begitu akan menyakiti hatinya, apakah benar kalau mereka begini, mereka begitu, apa bukan saya yang salah, apa nanti mereka tak akan terluka oleh kata-kata saya.' Well, terlalu banyak berpikir itu kadang melelahkan, seringkali malah itikat kita untuk menyampaikan uraian perasaan jengkel dan kesal jadi tak tersampaikan. Begitulah saya, seringkali diam kalau kesal.
Labels:
sudut pandang,
thinking
Tuesday, March 26, 2013
Ijazah
Kalau misalnya akhir sekolah tak ada ijazah, apa kau akan tetap sekolah?
Tentu, niatku kan menuntut ilmu, eh tunggu dulu, tak ada ijazah? Lalu bagaimana tentang adanya simbol kalau kita sudah bersekolah?
Jadi kau bersekolah hanya simbolis belaka? Formalitas?
Ah tentu tidak, sekolah adalah cara untuk mengenyam pendidikan. Eh, tapi...
Ah tentu tidak, sekolah adalah cara untuk mengenyam pendidikan. Eh, tapi...
Tapi apa? Ku tanya, bagaimana jika suatu saat sekolah tak mengeluarkan ijazah sebagai tanda kelulusan atau tanda-tanda apa saja itu?
Kalau itu tak ada, bagaimana kita bisa mencari pekerjaan nantinya, bukankah ijazah adalah salah satu tanda bahwa kita sudah mengenyam pendidikan?
Kalau itu tak ada, bagaimana kita bisa mencari pekerjaan nantinya, bukankah ijazah adalah salah satu tanda bahwa kita sudah mengenyam pendidikan?
Friday, August 17, 2012
pulang
"Aku ingin pulang" kata Sang Wanita sambil menerawang. Sang Lelaki seketika tersentak, "Kenapa?" tanyanya, menata intonasi dalam suaranya yang tiba-tiba bergetar.
"Tak apa, aku hanya ingin pulang" jawab Wanitanya santai.
'Apa yang ada di pikiranmu hingga tiba-tiba kau ingin pulang, Wanitaku?' batin Sang Lelaki. Dia enggan bertanya, hanya menatap kosong lembah hijau yang kian kelabu di hadapannya.
Langit perlahan semakin memerah, mentari perlahan semakin tenggelam. Dan mereka melayang dalam pikiran masing-masing.
"Tak apa, aku hanya ingin pulang" jawab Wanitanya santai.
'Apa yang ada di pikiranmu hingga tiba-tiba kau ingin pulang, Wanitaku?' batin Sang Lelaki. Dia enggan bertanya, hanya menatap kosong lembah hijau yang kian kelabu di hadapannya.
Langit perlahan semakin memerah, mentari perlahan semakin tenggelam. Dan mereka melayang dalam pikiran masing-masing.
Labels:
Flash fiction,
thinking
Thursday, August 2, 2012
tanya (?)
Sebenarnya seberapa besar bumi ini? Merasakan jauhnya jarak Malang Jember yang pada peta tak sampai 10 senti saja sudah malas apalagi jarak dari ujung utara sampai selatan bumi ini. Jadi hey Bumi, seberapa besar dirimu??
Sebenarnya seberapa luas jagat raya ini? Membayangkan besarnya bumi saja tak mampu apalagi luasnya jagat raya. Matahari yang terasa dekat tiba-tiba menyentak, tak sedekat itu, dia jauh. Jadi hey jagat raya, seluas apakah dirimu?
Dan...
Sekecil apakah diri ini hingga berani merasa dan berlaku 'tinggi' ?
Dan lagi, Engkau, bukankah sungguh Maha Besar? Subhanallah..
Labels:
sudut pandang,
thinking
Subscribe to:
Posts (Atom)




