Pages

Subscribe:

Ads 468x60px

Thursday, March 17, 2016

A Thought and Task - Free Day. I need it, asap

"Aku tak mengenalmu!" bentakku kasar. Amarah sedang menguasaiku.
Bagaimana aku bisa tak mengenalmu seperti ini, ini sudah keterlaluan. Kau tidak seperti biasanya. Aku tak bisa lagi meramal kenapa dan apa. 
"Ada apa? mengapa kau berubah begini?" tanyaku lagi, sedikit menahan nada-nada tinggi yang mungkin terlontar.
Kau diam saja bagaimana aku tau? aku sudah mencoba beberapa hal, tapi kau tetap bergeming. Kau biarkan panas itu bersarang dalam tubuhmu, sementara lidahmu tak suka mencecap yang pahit, dan kakimu tak suka melangkah menuju yang berbaju putih. 
"Jadi aku harus bagaimana?" rasanya pertanyaan ini kuajukan untukku sendiri.
"Kau tau sendiri, aku tak bisa diam saja, aku tak bisa tak melakukan apa-apa sementara begitu banyak urusan yang harus ku selesaikan, atau sekedar ku cicil. Jika terus kau begini, aku bisa apa?" rasanya aku berbicara sendiri, dia tak merespon apa-apa.

Thursday, March 10, 2016

10 maret

Selamat ulang tahun, lip!  お誕生日おめでとう!
jika ada satu harapan yang aku inginkan untukmu adalah berbahagialah!

Buang segala perasaan yg tak perlu kau simpan, buka hatimu untuk orang orang yg mampu membuatmu bahagia. Hiduplah di masa kini, tak perlu terpaku pada masa lalu apalagi terlalu memuja masa depan.

Hiduplah dengan rasa syukur, rendah hati, ringan tangan dan murah senyum. Ah, sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain kan?
:)

Well, alhamdulillah, tidak seperti tahun tahun sebelumnya, I'm so happy today.

Didoakan teman sekelas, disamperin ke kos 'cuma' buat ngasih kue tart sama temen-temen sekelas, dikejutkan mbak bubu yang hujan-hujan belain buat ngasih si larva dan yang terakhir diberi surprise sama temen sekost hihi.ah, Tuhan sayang banget ya sama saya. Satu satunya hari yang saya spesialkan sepanjang tahun ya hari ini. my only special day. Selamat ulang tahun, oliv, ovi! Berbahagialah selalu, seperti ini..

Wednesday, March 2, 2016

lama tak bersua


Kita duduk berdampingan. Bahu kita berjarak sejengkal, wangi parfummu masih sama seperti sebelumnya. Rambutmu yang biasa berantakan kini terlihat rapi. Sudah berapa lama aku tak memperhatikanmu, aku tak tau. Sudah beberapa kali kau mengajakku berdiskusi dan aku hanya menolak dengan alasan kesibukanku. 

Kini, saat aku tak tau harus pergi ke mana, ku ketuk pintu rumahmu yang selalu tak terkunci. 

Setengah jam sudah kita berdiam diri di sini, di halaman rumahmu yang kaku, hanya satu dua kaktus, sebatang mawar yang entah sekering apapun tetap hidup, serumpun melati yang jarang kau siram namun tetap berbunga, dan yang paling aneh adalah satu pot kosong yang kau isi dengan beberapa siung bawang merah. 

Rasa, kata, makna

Jadi begini urutannya dalam satu sisi. Rasa, kata, makna. Jika ku tak miliki step yang pertama, jangan tanyakan step-step selanjutnya. Jikapun aku ada kata, itu hanyalah pengulangan-pengulangan. Yang entah bagaimana maknanya.

Sudah beberapa lama tak ku miliki sebuah rasa. Sebab itulah aku menjauh dari kata. Mungkin ku sengaja, atau juga tak. 

Tentang rasa, aku bisa menyembunyikannya sebaik apapun di wajah orang lain. Tidak dengan kata. Jika kau bisa membaca, semua sudah kutuangkan rasanya tuntas di kolom kata. Tentu, aku sengaja agar kau tak memahami artinya. 

Maknanya memang sengaja untukku sendiri. Bagaimana rasaku, kau tak perlu tau maknanya kan? 

Jumat, 26 Februari 2016 11:37 PM

Wednesday, February 10, 2016

sebab-akibat yang dimusnahkan

Barangkali aku hanya ingin membaca
Dan mencoba merasakan
dari apa yang penulis ingin gambarkan
sesederhana itu saja
Jika kaca mataku pecah
apakah itu artinya aku tak kan bisa melihat?
Tidak, tentu saja tidak 
hanya saja, tidak akan sejelas biasanya

Jika sepatuku berlubang, solnya lepas
apakah itu tandanya aku tak kan bisa berjalan lagi?
Tidak, tentu saja tidak
hanya saja, jalanku tak kan semudah dan senyaman biasanya

Ya, hanya tidak seperti biasanya
Biasanya, sebagai akibat dari sebab yang diulang-ulang
Maka, sudah lama ku putuskan aku tak kan mengulang-ulang
Sebab-sebab yang akan menjadi biasanya
Sudah ku hentikan, hingga tidak ada lagi yang biasa
Akibat dari sebab ketiadaan

8 Februari 2016.

Sunday, February 7, 2016

Cita rasa dasar



Pukul dua belas tepat, ditandai dengan jingle radio yang menggaung saat pergantian jam. Siang yang panas, ditemani oleh kipas angin yang sudah berpuluh menit berputar menghembus udara yang diam, pengap. Musim penghujan sudah datang, tapi entah mengapa malah udara panas yang betah singgah. 
Sang Lelaki menyodorkan segelas jus jambu dingin pada Wanitanya. Wanita yang sesaat lalu mematikan televisi di depannya itu lantas tersenyum. 
“Jalan-jalan, yuk?” tanya sang lelaki sambil meletakkan kaca matanya di atas meja kayu di depannya.
“Hmm, enggak yuk?” jawab sang wanita, santai. Sang Lelaki tertawa
“Kenapa?”

Thursday, December 31, 2015

The end of 2015

Bersiap untuk mengucap selamat tinggal pada 2015.
Sebelum resmi pergi, biar kita nostalgia sebelum berpisah ya 2015.
What a hectic year!
What happened in 2015? Here you go

1.Awal tahun ini disibukkan dengan rencana seminar proposal skripsi. Bahkan tahun baru 2015 dinikmati dari lantai tertinggi gedung F Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya. Sembari menanti uji serat pangan yang lumayan ribet prosedurnya, ditemani gerimis-gerimis romantis, lari-lari kecil dari rektorat ke gedung F (bersama lemot, ara dan zaa – yang juga lagi lembur di lab), dan yatta! Pergantian tahun diiringi suara kembang api, dan polusi asap yang luar biasa pastinya.

Saturday, December 12, 2015

ngekek

Malam ini nyaris sakit perut gegara ngakak.
Satu kata bisa berbuntut panjang kalo bicara sama bocah bocah edan axxiv. Pelayan, tenggelam, bahkan kata perut bisa jadi apa aja. Emang, menggeje bikin bahagia :')

Jas merah katanya, jangan melupakan sejarah. Ini satu sejarah yang nggak akan dilupakan. Berantem pas rapat, guyon lagi. Cekcok pas diklat, guyon lagi (enggak seh, diklat ra tau guyon) . Isine mung guyooon wae lah pokok.. Nek nggak yo ngebully :'

Ada saat saat itu, ketika sekolah rasanya jadi prioritas kedua. Ketika tiap pulang sekolah mampir ke uks untuk sekedar say Hi say hello. Ada saat saat itu, saat pulang malam demi merancang bagaimana itu diklat, bagaimana itu lomba.

Ini dia, saudara saudara saya seangkatan.
Versi kita yang masih kurus memang. Hihi 😁


2008-2011
Laga paramaduta, diklat junior, jumbara, dan diklat senior.

Saturday, July 18, 2015

(still) invisible

Banyak yang ingin ku katakan..
tentang cerita-cerita yang selama ini ku pendam
tentang perasaan-perasaan yang ku kubur dalam-dalam
tentang pikiran-pikiran yang tak pernah ku bagikan
Padamu, ya padamu. Seseorang yang belum ku tahu tau namanya.

Nanti, setelah kita dipertemukan, aku ingin kau mendengar ceritaku, mendengar ocehanku tentang hal-hal bodoh dan tak penting. Ijinkan aku menceritakan apa saja tentang diriku ini. Dan menceritakan kerinduan-kerinduanku padamu..

Friday, June 26, 2015

Angin dan Asap



“Namaku angin,” kataku.
“Namaku asap,”katamu. Kita berjabat tangan.
“Darimana asalmu?” tanyamu kaku, batuk menyusul pertanyaanmu itu.
“Aku berasal dari udara yang bergerak, sementara dirimu?”
“Aku? aku berasal dari pembakaran tak sempurna dari suatu bahan bakar yang terbang bersama udara yang tak berwarna,” ada nada kesal dan kecewa dari jawabanmu. Mudah sekali terbaca perasaanmu itu, atau mungkin kau sengaja menunjukkannya?
Aku manggut-manggut, mengerti dengan penjelasanmu. Bukankah sebenarnya kita sama saja? Sama-sama terbang ke angkasa, hanya saja kau mudah ditandai oleh indra pengelihatan dengan wujudmu yang kelabu, sementara aku sulit sekali untuk dilihat – meski aku ingin sekali – hanya bisa dirasa saja. Ah iya! Aku bisa dilihat dari apa-apa yang kusentuh, mereka selalu mengatakan daun-daun yang jatuh disebabkan olehku, layang-layang yang terbang juga karena ada aku, kata mereka, manusia. Dan mereka selalu menantiku jika sedang kepanasan, ingin menerbangkan perahu layar, mengeringkan baju dan tentu untuk menerbangkan layang-layang.

Saturday, June 20, 2015

Di antara jeda kata yang tak saling mengenal, 
dibutuhkan hanya kesabaran, mimpi dan harapan
Sementara kepompong bersiap mengepakkan sayapnya

Ku harap retention time ku ini adalah waktu tunggu kepompong untuk menjadi kupu-kupu. Meski aku tak tau apakah daun-daun yang telah kulahap kemarin sudah cukup menjadikanku kupu-kupu bersayap indah, aku masih memiliki harapan, kepompongku berhasil bermetamorfosis.

Tuesday, April 21, 2015

lagi gila nih eiyke

Saya adalah orang yang logis. Selalu berkaca pada realitas dan melakukan sesuatu berdasarkan perhitungan-perhitungan (meski kadang saya benci akan pola pikir saya sendiri yang sering melakukan perhitungan akan langkah-langkah yang saya buat, meski begitu saya juga melakukan kesalahan karena kehilangan satu langkah penting dalam hidup saya, satu hal yang saya abaikan, nyaris saya abaikan total). Dan satu hal lagi, saya juga percaya pada probabilitas. Teori kemungkinan-kemungkinan yang hanya jadi pengandaian di kepala tapi saya memiliki jurus ampuh untuk menenangkan logika, realitas dan perhitungan saya, satu kalimat pelumpuh : HEY ADA YANG MAHA MENDENGAR, MELIHAT DAN MAHA SEGALANYA!

Begitulah, kadang perhitungan, realitas dan logika saya berbenturan terhadap Tangan Tuhan. Dan di sanalah saya percaya terhadap usaha dan masa depan, berusaha lebih percaya. Percaya pada diri sendiri, krisis yang tak pernah berhenti pada diri saya sendiri. YAH, SELAMAT UJIAN MINGGU DEPAN!

Menurut saya, Ibarat hidup, minggu depan itu sakaratul mautnya, mau sebaik apapun sepanjang hidup kita, kalau pas episode terakhir hancur jadi bejat, ya sama aja kan? iya begitulah, sama aja kalau pas kuliah keren tapi pas sidang sebaliknya. ah gitulah, semangat!

SESAL APA LAGI?

"Ada berapa hal yang kau selali di masa lalu?" tanyamu. 
"Banyak!" jawabku tanpa pikir panjang, terlalu banyak yang aku sesali, hingga semuanya mengabur membuatku malu sendiri.
"Kenapa banyak? Hal-hal burukkah? Hal-hal baikkah?" tanyamu lagi, selalu ingin tau.
"Beberapa hal baik, sisanya hal-hal yang di mataku saat ini memalukan. Mengapa aku lakukan, mengapa aku begitu tak tau malu, mengapa aku dahulu tak berpikir panjang," kataku memulai ceritaku.
Kau diam saja kali ini. Memandangku, tersenyum. Seakan kalimat itu terlepas dari lidahmu, "tak apa, itu hanya masa lalu." Tapi yang ku pandang, kau hanya membeku, menggigil dan kaku, meski senyum kau sunggingkan di bibirmu.
Ada banyak yang ingin ku ceritakan, ada banyak hal yang ingin ku bagikan, tapi kau berhenti di tanda tanya itu. Kemudian aku tersenyum, menahan keinginanku untuk berkata ini itu. 
"Ya, benar, itu hanya masa lalu, kata orang, masa depan selalu masih suci."